Posted by on July 15, 2014

Pagi belum benar-benar terang, namun derap langkah terburu-buru belasan muda-mudi sudah terdengar. Beberapa kali kami mendengar nama kami sudah dipanggil oleh awak maskapai melalui pengeras suara supaya kami menyegerakan diri untuk naik ke pesawat. Namun apa daya, ada beberapa masalah yang harus diurus terlebih dahulu.

Tim Arung Jeram melakukan foto bersama di “Jeram King” sebelum melakukan pengarungan hari ke-3

Tim Arung Jeram melakukan foto bersama di “Jeram King” sebelum melakukan pengarungan hari ke-3

Kami “ketahuan” membawa benda tajam dalam daypack dan carrier kami. Petugas yang sadar akan hal tersebut segera menginstruksikan kami untuk mengeluarkan benda-benda tersebut dari dalam tas kami. Walaupun kami sudah berkilah bahwa parang dan pisau yang kami bawa adalah untuk keperluan penjelajahan kami kali ini, pendirian petugas keamanan tetap tak berubah.

Namun karena urgensi dari barang-barang tersebut, akhirnya petugas pemeriksaan memperbolehkan kami membawa benda-benda tersebut. Dengan syarat pisau dan parang harus diletakkan di kargo pesawat, bukan di dalam kabin. Saat itu juga Firman, ketua pelaksana perjalanan ini, segera menyambar tumpukan logam tersebut dan langsung berlari ke tempat check in barang-barang kargo. Sementara sisa anggota lainnya, masuk ke dalam terlebih dahulu ke dalam pesawat, sambil seraya memberitahu awak penerbangan bahwa masih ada satu teman kami yang masih belum datang. Samar-samar terdengar mesin pesawat semakin menderu, tanda bahwa mesin sudah “panas” dan siap untuk segera menjelajah langit Indonesia. Dan tepat saat itu, Firman akhirnya datang dengan nafas yang sedikit terengah-engah.

Kali ini, Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) mendapatkan kesempatan untuk menjelajahi keeksotisan alam Indonesia bagian tengah, tepatnya di Pulau Sulawesi, dalam rangka Ekspedisi Arung Jeram Sungai Lariang dan Telusur Taman Nasional Lore Lindu. Sungai Lariang sendiri merupakan sungai terpanjang di Pulau Sulawesi yang berhulu dari dataran tinggi Napu, melewati Kabupaten Poso, hingga bermuara di Selat Makassar. Sungai sepanjang kurang lebih 245 kilometer ini juga menjadi batas barat daya dari Taman Nasional Lore Lindu.

Hari Kamis (20/02/2014) sekitar pukul 09.00 WITA, tim ekspedisi tiba di Bandar Udara Mutiara Palu. Kami menyempatkan diri untuk bermalam di kota ini karena masih ada beberapa barang yang belum kami siapkan untuk kebutuhan eskpedisi nanti, seperti gas untuk memasak, aki kering untuk alat komunikasi, serta bahan makanan. Perjalanan dari Kota Palu ke titik awal pengarungan yang terletak di Desa Tuare, Kabupaten Poso, memakan waktu sekurang-kurangnya satu malam. Namun sebelumnya, tim terlebih dahulu dibagi menjadi dua. Tim pertama berangkat menuju titik awal pengarungan melalui Kabupaten Poso mengitari sisi utara dari Taman Nasional Lore Lindu menuju Desa Tuare, sedangkan tim yang lainnya berangkat melalui Kecamatan Kulawi Selatan, Kabupaten Sigi melewati sisi barat Taman Nasional Lore Lindu menuju Desa Gimpu.

Pembagian tim menjadi dua ini bertujuan untuk mengefektifkan pembagian porsi wilayah pemetaan jeram oleh tiap-tiap individu. Pemetaan jeram merupakan bagian dari survei yang berfungsi untuk mengetahui kondisi sungai yang akan diarungi, khususnya letak dan grade (tingkat kesulitan) jeram. Pemetaan jeram dilakukan dengan menyusuri tepi aliran sungai kemudian melakukan dokumentasi terhadap jeram yang akan dilalui, baik dengan cara mengambil foto, video, maupun menggambarkan jeram tersebut ke atas kertas secara manual. Pada akhirnya hasil pemetaan tersebut akan berupa peta yang menggambarkan kondisi sungai, mulai dari letak serta ukuran batu, hole, undercut, serta potensi bahaya lainnya. Dengan peta ini, seluruh anggota tim dapat menyiapkan tindakan antisipasi bahaya untuk melalui jeram tersebut.

Setelah dipetakan, jeram-jeram tersebut ditandai dengan sebuah bendera berwarna hijau, kuning, atau merah. Pemilihan warna bendera yang dipasang ditentukan dari tingkat bahaya dari jeram tersebut. Bendera warna hijau menandakan jeram tersebut tidak terlalu berbahaya sehingga dapat dilalui dengan sebelumnya melakukan scouting (mengamati kondisi jeram untuk memutuskan tingkat bahaya serta tindakan antisipasi apa yang harus dilakukan) dari atas perahu saja. Bendera berwarna kuning menandakan jeram tersebut cukup berbahaya dan diperlukan scouting dari tepi sungai sebelum melaluinya. Sementara untuk jeram yang berbahaya dan dinilai tidak dapat dilalui akan ditandai dengan bendera berwarna merah.

Sungai Lariang disebut oleh banyak orang sebagai the most challenging river at Cellebes. Karena itu kami tidak boleh gegabah dan menganggap enteng uwai (sungai) yang satu ini. Tim yang datang melalui Desa Tuare mendapatkan bagian untuk memetakan jeram dari titik awal pengarungan hingga beberapa puluh kilo ke arah hilir. Sedangkan tim yang datang melalui Desa Gimpu mendapatkan bagian untuk memetakan jeram dari titik akhir pengarungan hingga beberapa puluh kilo ke arah hulu. Proses pemetaan sendiri memakan waktu selama tiga hari. Dan pada hari keempat seluruh tim, termasuk tim yang datang dari Desa Gimpu, sudah kembali berkumpul di Desa Tuare.

Satu hari sebelum pengarungan, masing-masing tim pemetaan mempresentasikan hasil pemetaan jeram-jeram yang mereka temui selama proses pemetaan beberapa hari kemarin. Setelah semua titik jeram, emergency exit point, hingga rencana komunikasi dengan tim darat telah selesai didiskusikan, seluruh anggota tim diberikan instruksi untuk beristirahat dengan baik sebelum pengarungan dimulai besok pagi. Ketika pagi datang, masing-masing orang sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Beberapa orang terlihat sedang mengurusi perlengkapan tim arung jeram yang akan dimuat di atas perahu, beberapa orang terlihat sedang membungkus sayur-sayuran dengan alumunium foil, dan beberapa orang lainnya terlihat sedang memompa perahu. Segera setelah semua persiapan selesai dan perut telah rampung diisi, kami pun segera berangkat menuju sungai. Namun sebelumnya, kami dan warga desa berdoa bersama dipimpin oleh pemuka agama Desa Tuare. Kami berdoa semoga semuanya dapat berjalan sesuai rencana dan seluruh anggota tim arung jeram diberikan kekuatan dan kesehatan untuk bisa berhasil menyelesaikan pengarungan dengan selamat. Juga supaya kami bisa lebih mengerti dan mensyukuri alam, tempat hidup dan penyokong kehidupan kami.

Disinilah kami berpisah dengan beberapa orang anggota ekspedisi, yaitu dua orang tim darat. Sesuai perencanaan awal, tim darat akan berada di Desa Gimpu untuk mendirikan communication basecamp. Selain karena pertimbangan di Desa Gimpu sudah terdapat sinyal telepon, fasilitas-fasilitas umum seperti puskesmas, polisi, juga jalan raya yang bisa dilalui oleh kendaraan roda empat sudah tersedia di desa ini. Karena itu Desa Gimpu menjadi pilihan kami untuk mendirikan communication basecamp untuk ekspedisi kali ini. Dengan semangat yang menggebu, tim arung jeram memulai pengarungannya sekitar pukul 9.50 WITA (28/02/2014). Rencananya, tim akan mengarungi Sungai Lariang sepanjang kurang lebih 53 km dalam waktu 5 hari dengan menggunakan 2 perahu karet merk Aire.

Di awal pengarungan kondisi sungai masih sangat bersahabat. Aliran sungai masih tenang dengan air yang masih terlihat jernih kehijau-hijauan. Sesekali terdapat jeram namun masih berada di level “menyenangkan”. Kami sempat beberapa kali bertemu dengan warga yang sedang mendulang emas di tepi aliran sungai ini. Tak lupa kami merapatkan perahu ke tepi untuk sebentar berbincang dengan para pendulang tersebut sambil melihat proses pendulangan emas yang mereka lakukan. Kondisi sungai terus seperti ini, hingga akhirnya tim tiba di pertemuan antara Sungai Lariang dengan Sungai Rampi.

Jika melihat pada peta yang kami miliki, aliran sungai mulai dari pertemuan Sungai Lariang dengan Sungai Rampi hingga Desa Moa inilah yang menjadi wilayah yang kami prediksi paling berbahaya. Di daerah ini, badan sungai mengalami penyempitan dengan bagian kanan dan kiri sungai sering kali berupa tebing terjal yang akan menyulitkan jika harus terjadi proses evakuasi. Selain itu, wilayah ini juga merupakan wilayah yang paling terpencil karena jauh dari akses jalan dan pemukiman warga.

Tambahan volume air dari Sungai Rampi serta Sungai Pao di depannya, ditambah penyempitan badan sungai membuat arus sungai berubah dari tenang menjadi lebih cepat dan liar. Terbukti, tidak jauh dari pertemuan dengan Sungai Rampi sudah terlihat sebuah jeram yang cukup besar di depan. Karena itu, penanggung jawab teknis perjalanan tim segera menginstruksikan tim untuk menggunakan sistem eddies-to-eddies.

Pada sistem pengarungan seperti ini, perahu pertama akan menepi di eddy (pusaran air atau arus balik) sebelum jeram, lalu anggota tim di perahu tersebut turun dan berjalan menyusuri sungai hingga mencapai bagian di mana jeram tersebut berakhir untuk bersiap mendokumentasikan momen saat perahu kedua melewati jeram tersebut serta sebagai tim penolong jika ada anggota tim perahu kedua terjatuh ataupun perahu terbalik dan hanyut.

Sementara anggota tim terdepan bersiap sebagai tim dokumentasi dan tim penolong, perahu di belakangnya harus menepi atau menahan laju perahu untuk tidak melewati jeram tersebut sampai ada aba-aba jalan dari perahu terdepan. Setelah aba-aba jalan (mengangkat dayung lurus ke atas, membunyikan peluit satu kali, maupun lewat handy talky) diberikan, perahu dua baru boleh melewati jeram tersebut untuk kemudian menepi di eddy terdekat setelah jeram. Jika semua berjalan dengan lancar, maka anggota tim kedua perahu tersebut berganti peran. Anggota tim perahu kedua yang telah melewati jeram akan menjadi tim dokumentasi dan tim penolong menggantikan anggota tim perahu pertama yang kembali ke perahu untuk kembali melanjutkan perjalanan. Hal ini akan berlangsung terus menerus secara bergantian, perahu yang tadinya berada di depan akan berada di belakang setelah jeram dan begitu juga sebaliknya.

Sistem eddies to eddies ini dilakukan untuk meminimalkan resiko saat kecelakaan terjadi ketika perahu sedang melewati jeram. Karena jika seandainya terjadi kecelakaan pada salah satu perahu ketika sedang melewati jeram, sudah ada tim penolong yang bersiaga di ujung jeramuntuk melakukan pertolongan.

Satu, dua jeram awal berhasil kami lalui dengan baik hingga akhirnya sebuah jeram dengan grade (tingkat kesulitan) 4 menghadang di depan. Masih terlena dengan kondisi sungai yang tenang sebelumnya membuat anggota tim di perahu yang dipimpin oleh Kurniadi menjadi kurang sigap. Perahu memasuki jeram grade 4 tersebut dalam posisi tidak lurus sehingga perahu pun dengan mudah dibuat miring oleh jeram, satu orang anggota tim terjatuh dan tidak terlihat. Anggota tim yang lain mulai panik hingga akhirnya beberapa detik kemudian anggota tim yang terjatuh tadi akhirnya terlihat, “Angkat Daniel, angkat Daniel!”, anggota tim perahu lain yang berada di tepi memerintahkan. Beruntung Daniel, anggota tim yang terjatuh, berhasil naik kembali ke atas perahu.

Perahu tidak berhasil masuk dengan lurus sehingga salah satu awak perahu terjatuh

Perahu tidak berhasil masuk dengan lurus sehingga salah satu awak perahu terjatuh

Penderitaan belum selesai, baru saja Daniel naik kembali ke perahu, jeram lain langsung menyambut di depan. Perahu masih dalam posisi kurang lurus dan akhirnya sekali lagi perahu “digoyang” oleh jeram. Kali ini sang skipper (kapten perahu) yang terjatuh, untungnya sang skipper dengan sigap langsung naik kembali ke perahu. Beruntung kejadian tersebut tidak menimbulkan luka yang fatal. Setelah kejadian tersebut, tim memutuskan menepi untuk makan siang dan istirahat.

Setelah beristirahat selama hampir satu jam, tim kembali melanjutkan perjalanan. Jeram-jeram grade 4 dapat dilalui dengan baik. Namun ketika hari semakin petang, insiden berikutnya terjadi. Perahu yang dikapteni oleh Kurniadi menabrak batu hingga bagian depan perahu naik ke batu. Tidak sampai di situ, perahu yang mereka tumpangi pun akhirnya terbalik dan hanyut, sedangkan beberapa anggota tim yang berada di perahu tersebut terjatuh ke dalam sungai. Melihat kejadian tersebut, setelah memastikan anggota tim yang terjatuh ke sungai sudah dalam kondisi yang aman terlebih dahulu, tim yang berada di perahu lain segera mengejar perahu yang hanyut. Setelah sekitar 300 meter, akhirnya perahu yang hanyut ditemukan terjebak di eddy. Walaupun semua barang bawaan di perahu itu basah, perahu masih bisa diselamatkan. Karena kebetulan lokasi insiden ini berdekatan dengan meander (endapan pasir pada bagian tepi sungai, biasanya terdapat pada lekukan sungai) yang cukup luas dan relatif aman, maka tim memutuskan untuk bermalam dan menyudahi pengarungan untuk hari ini.

Matahari belum sepenuhnya terbit, namun tim sudah harus bangun karena perahu yang semula berada jauh dari air sekarang sudah berada di atas air. Mau tak mau tim harus memindahkan perahu menjauhi sungai yang ketinggian airnya meningkat akibat hujan yang turun di daerah hulu. Debit air sungai bertambah, air sungai yang semula jernih kini berwarna kecoklatan, kayu-kayu yang sebelumnya teronggok di tepi sungai sekarang terombang-ambing oleh arus sungai, dan bagian sungai yang semula tenang berubah menjadi standing wave yang terlihat ganas.

Sambil menunggu sungai menjadi lebih tenang, kami bersiap untuk kembali melakukan pengarungan. Sekitar pukul sembilan, tim mulai menurunkan perahu ke sungai dan me-loading barang ke perahu untuk melanjutkan pengarungan. Sial bagi tim, ternyata salah satu perahu mengalami kebocoran yang cukup parah di bagian samping. Repair kit yang sengaja dibawa pun akhirnya menjadi tidak sia-sia, segera tim melakukan reparasi dengan menambal bagian yang bocor menggunakan lem dan bahan tambahan. Setelah lewat tengah hari, barulah perahu dapat digunakan kembali.

Baru beberapa kilo saja mendayung, tim langsung menemui tantangan terbesar dalam pengarungan ini. Jeram-jeram bertingkat setinggi hampir dua meter, arus yang liar tidak beraturan, hole berbahaya, stopper yang siap membalikkan perahu, menganga sepanjang sungai sampai beberapa kilometer ke depan. Daerah berbahaya ini bernama Mahaba. Oleh SOBEX Expedition, jeram-jeram yang ada di hadapan kami diibaratkan sebagai permainan kartu sehingga nama-nama jeram diambil dari istilah permainan kartu tersebut, “Jeram Ace”, “Jeram King”, “Jeram Queen”, “Jeram Jack”, hingga “Jeram Ten”. Dan yang paling pertama harus kami lalui adalah, “Jeram Ace”, jeram terbesar dan paling berbahaya di antara jeram-jeram Mahaba lainnya.

Butuh waktu yang cukup lama bagi Penanggung Jawab Teknis untuk memutuskan apakah jeram ini akan tetap dilalui dengan diarungi atau harus dilakukan lining perahu. Debat antar anggota tim menjadi hal yang wajar karena ego untuk melalui jeram menantang ini cukup tinggi sementara faktor keselamatan tim juga harus tetap dipikirkan, pada akhirnya PJ Teknis tim memutuskan untuk melakukan lining pada perahu pertama hingga ke ujung jeram.

Lining merupakan salah satu cara untuk melewati sebuah jeram yang dinilai berbahaya tanpa harus menaiki perahu. Saat lining, perahu diikatkan dengan tali yang cukup panjang lalu perahu dihanyutkan mengikuti arus hingga mencapai ujung jeram atau eddy terdekat yang cukup aman. Ada kemungkinan perahu terbalik atau tersangkut dibatu, oleh karena itu fungsi tali yang mengikat perahu tersebut tidak hanya sebagai penambat tapi juga sebagai pengontrol arah perahu.

Sebelum dilakukan lining, terlebih dahulu seluruh barang-barang dikeluarkan dari perahu untuk dipindahkan ke ujung jeram melalui darat. Perahu pertama berhasil di-lining dengan baik hingga ke ujung jeram. Tiba saatnya giliran perahu kedua, kali ini perdebatan menjadi lebih “panas”. Beberapa anggota tim mengotot ingin menjajal jeram ini, sementara PJ Teknis lebih mengkhawatirkan keselamatan anggota timnya. Akhirnya diambil jalan tengah, perahu di-lining setengah jalan hingga melewati bagian yang paling berbahaya lalu dilanjutkan dengan mengarungi perahu. Jalur yang diambil adalah jalur paling kiri. Beberapa kali perahu diguncang oleh jeram, namun pada akhirnya perahu berhasil selamat sampai ke ujung jeram. Pengarungan dilanjutkan, dikejauhan sudah terlihat jeram besar berikutnya, batu-batu besar persis seperti yang kami lihat pada foto Mapagama UGM yang sudah terlebih dahulu mengarungi sungai ini menandakan bahwa jeram didepan adalah “Jeram King”. Namun jeram tersebut masih harus menunggu besok untuk bertemu kami karena hari sudah semakin gelap dan kami memutuskan untuk mendirikan kemah.

Melewati setengah dari "Jeram Ace" yang merupakan jeram terbesar di Sungai Lariang

Melewati setengah dari “Jeram Ace” yang merupakan jeram terbesar di Sungai Lariang

Setelah mengamati dan mempertimbangkan setiap manuver, lintasan hingga rescue scenario, tim segera bersiap di atas perahu dan memulai perjalanan hari ini. “Jeram King” menjadi sarapan pagi kami, perahu pertama memutuskan untuk mengambil jalur tengah dimana banyak arus-arus berkarakteristik drop. Perahu pertama yang dikapteni oleh Gus Firman berhasil melewatinya dengan lancar. Perahu kedua yang dikapteni oleh Kurniadi mengambil jalur paling kanan sungai, mepet dengan tebing, yang dihiasi oleh standing wave yang tinggi. Perahu terasa terbang diombang-ambingkan oleh ombak sungai ini. Meski demikian, perahu kedua juga dapat melewati jeram tersebut dengan baik.

Hari ini ternyata merupakan hari penghabisan bagi jeram-jeram di section Mahaba yang sangat berbahaya sekaligus menantang. Tidak lama, tim dihadapkan dengan “Jeram Queen” yang memiliki panjang 400 m dengan hole yang tersebar acak dan diakhiri oleh hole besar yang siap untuk membalikkan perahu. Menurut penuturan warga, di jeram inilah sering terjadi kasus perotan tewas karena tenggelam dan terjebak di dalam undercut (cerukan pada tebing yang terbentuk akibat gerusan arus sungai yang menghantam tebing). Namun tim masih bisa menghadapi rintangan tersebut. Begitu juga dengan “Jeram Jack”, yang diujungnya terdapat high stack setinggi perahu, masih mampu dilewati oleh kedua perahu karet buatan Amerika ini.

Masih ada beberapa jeram dengan grade 3-4 setelah “Jeram Jack”. Tim dengan baik dapat melewati jeram-jeram tersebut masih dengan sistem eddies to eddies. Selain menjadi tim back up dan dokumentasi, salah satu anggota di perahu yang paling depan juga bertugas untuk melakukan pemetaan jeram karena jeram-jeram di daerah Mahaba ini belum sempat kami petakan. Selain itu, tim tetap melakukan scouting untuk menentukan arah arus utama, titik bahaya, jalur yang akan diambil, manuver yang akan dilakukan, manuver cadangan, arah renang jika terjatuh, dan titik back up untuk tim penolong. Jeram-jeram yang akan dilewati kali ini tidak terlalu berbahaya dibandingkan dengan yang telah dilalui sebelumnya. Namun assessment (penilaian) terhadap jeram tentu tetap dilakukan. Tidak boleh ada kelengahan barang sedikit pun. Kesalahan sekecil apapun dalam melakukan assessment dapat berakibat fatal.

Sore ini, akhirnya tim arung jeram berhasil keluar dari section yang paling berbahaya dan mendirikan kemah di meander yang cukup luas dengan pemandangan menawan Sungai Lariang. Kami bersyukur bisa melewati semua kejadian hari ini dengan lancar. Sore yang pendek ini ditutup dengan tawa. Dan pada malam harinya, seperti malam-malam kemarin, tidak pernah lupa kami barang satu hari pun untuk memberikan kabar kepada tim darat melalui telepon satelit. Hal ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai kondisi tim beserta seluruh anggota, laporan perjalanan hari ini, hingga rencana pergerakan esok hari.

Ekspedisi telah memasuki hari keempat. Pagi ini tim masih bersemangat untuk mendayung dengan kompak melewati jeram-jeram yang terhampar di depan. Jeram yang tersisa masih berada pada tingkat “menyenangkan”. Sesekali kami berteriak kegirangan ketika melewati jeram yang memiliki drop tinggi dan standing wave. Target pengarungan hari ini adalah mencapai Desa Moa, sekitar 18 kilometer dari tempat terakhir kami bermalam. Di sepanjang jalan kami beberapa kali bertemu dengan para pendulang emas. Dengan semangat kami melambaikan tangan ke arah mereka, dan mereka membalas lambaian kami dengan antusias. Betapa leganya kami bisa kembali bertemu dengan manusia selain anggota tim arung jeram. Itu berarti kami semakin dekat dengan peradaban, yang berarti kami hampir mencapai akhir dari ekspedisi kali ini!

Ketika hari sudah cukup siang, kami menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak sambil mengecek posisi sekarang. Berdasarkan GPS (Global Positioning System), diketahui bahwa ternyata kami telah melewati Desa Moa. Dan menurut informasi dari salah satu anggota yang melakukan pemetaan section ini, Rinanda, jarak antara Desa Moa dengan Desa Gimpu tidaklah terlalu jauh dan kondisi sungai pun relatif tenang tanpa ada jeram yang berbahaya. Akhirnya tim memutuskan untuk melanjutkan perjalanan sampai ke garis finish, yaitu Desa Gimpu. Dan tidak lupa tim arung jeram memberitahukan rencana kedatangan yang agak “mendadak” kepada tim darat.

Kilometer demi kilometer kami dayung dengan semangat. Di tengah perjalanan, kami sempat berpapasan dengan kelompok pencari rotan yang sedang berenang menghanyutkan rotan. Ya, Sungai Lariang juga dimanfaatkan oleh warga sekitar sebagai alat transportasi mengangkut rotan. Kami berdecak kagum melihat keberanian para pencari rotan yang bertaruh nyawa berenang melewati beberapa jeram hanya dengan menggunakan pelampung sederhana yang terbuat dari styrofoam saja.

Kilometer yang tersisa kami selesaikan dengan canda tawa. Senyum lebar tergambar jelas di wajah setiap anggota tim. Dan akhirnya, sekitar pukul 15.30 WITA hari Senin (03/03/2014), kami melihat jembatan Desa Gimpu yang merupakan garis finish pengarungan. Terlihat teman-teman tim darat dengan ditemani oleh kawan-kawan dari Universitas Tadulako sudah menunggu di tepi sungai. Sontak, sorak-sorai bahagia terdengar dari tiap perahu. Anak-anak yang sedang bermain di sungai berusaha mengejar-ngejar kami sambil berteriak-teriak dengan riang. Segera kami arahkan perahu untuk merapat ke tepi sungai untuk bisa segera turun dari perahu dan memberikan pelukan rindu kepada teman-teman yang kami tinggalkan. Sebuah perjalanan singkat yang begitu terasa panjang!

Penelusuran Taman Nasional Lore Lindu dan sekitarnya

Pemandangan dari padang Lembah Bada menuju Lembah Besoa

Pemandangan dari padang Lembah Bada menuju Lembah Besoa

Tim telusur berpisah dengan tim besar pada 23 Februari 2014 setelah mengunjungi patung megalitikum terbesar yang berlokasi di Seppe dan mulai berjalan menuju Desa Kolori (entry menuju Lembah Besoa) didampingi satu orang dari Taman Nasional Lore Lindu, yakni Pak Arnol.

Tim telusur memulai tracking ke Lembah Besoa pada pukul 08.00 (24/02/2014). Setelah beberapa saat berjalan, kami menemukan sungai dengan ketinggian air setinggi paha orang dewasa yang harus kami seberangi tanpa bantuan jembatan. Sebuah permulaan yang cukup seru! Tak lama, kemudian tim istirahat makan siang sekitar pukul 13.30 di shelter yang dibangun warga Bada. Setelah selesai kami pun lantas melanjutkan perjalanan. Di sepanjang perjalanan menuju Lembah Besoa, ada beberapa titik pemandangan yang cukup menarik. Seperti Poin Tuoh, yang menurut orang jaman dulu berarti gunung hidup, juga padang ilalang dengan pemandangan desa-desa di Lembah Bada yang sangat indah. Namun karena hari sudah semakin sore, kami memutuskan untuk bermalam di dalam hutan, menumpang di shelter yang dibuat warga Desa Doda yang biasa digunakan untuk bermalam saat mencari hasil hutan, seperti getah damar dan rotan.

Hari selanjutnya (25/02/2014), tim melanjutkan perjalanan menuju Lembah Besoa dan tiba di tempat yang dituju sekitar pukul 10.00 WITA. Namun kami tidak langsung menuju penginapan, tetapi menyempatkan diri terlebih dulu untuk mengunjungi salah satu situs megalitikum yang terletak di tengah sawah penduduk. Setelah kami melakukan sedikit dokumentasi di titik ini, kami segera melanjutkan perjalanan menuju kompleks megalitikum di Pokekea. Waktu tempuh dari Desa Doda meunju Pokekea sekitar 45 menit dengan menggunakan sepeda motor. Lalu, kemudian kami kembali melanjutkan perjalanan menuju situs megalitikum di Lempe, dimana hanya terdapat satu patung.

Kalamba & Tutu'na di kompleks megalith Pokekea, Lembah Besoa

Kalamba & Tutu’na di kompleks megalith Pokekea, Lembah Besoa

Kami juga sempat mencoba mengenakan baju adat pernikahan Lore yang terbuat dari kulit kayu, milik salah satu warga. Seluruh pakaian terbuat dari kulit kayu. Semula, kami juga berencana untuk menyempatkan diri mengunjungi rumah adat, namun niat tersebut tidak bisa kami realisasikan karena sedang berlangsung rapat desa di rumah tersebut.

Rumah Adat Lore

Rumah Adat Lore

Akhirnya kami berkesempatan juga untuk mengunjungi rumah adat Lore dan melakukan wawancara dengan ketua adat Desa Doda Bapak Rondo Woiya, keesokan harinya (26/02/2014). Setelah itu, kami kembali menelusuri situs megalitikum di Tadulako. Walaupun situ di Tadulako memiliki banyak patung, tapi letaknya cukup berjauhan satu dengan yang lainnya. Butuh tenaga lebih untuk bisa menyambangi seluruh situs dalam sekali jalan. Namun ada satu situs yang paling menarik di Tadulako ini, yaitu sebuah arca yang diberi nama Tadulako juga. Bentuknya merupakan manifestasi dari seorang pemimpin suku berjenis kelamin laki-laki zaman dahulu kala (Tadulako diartikan oleh warga setempat sebagai pemimpin).

IMG_3377 (1)

Bentuknya masih bisa dibilang baik karena hampir semua bagiannya masih utuh, mulai dari kepala hingga kaki. Jauh dahulu sekali, ketika masih sering terjadi perang antar suku, suku yang bermukim dekat dengan arca ini sering datang untuk melakukan ritual adat di hadapan patung Tadulako ini. Mereka percaya jika mereka memuja patung leluhur tersebut, maka mereka akan diberkati dengan kekuatan dan kebijaksanaan ketika maju ke medan perang. Namun saat ini, ketika sudah tidak ada perang antar suku lagi, patung itu tetap dijaga kelestariannya. Bukan sebagai objek pemujaan, namun sebagai situs berharga peninggalan nenek moyang yang memiliki nilai historical yang tak ternilai.

Karena tim sudah ditunggu oleh taksi yang akan menuju Kamarora, Palu, tim memutuskan untuk menyudahi kegiatan di Tadulako sebelum sempat mengunjungi seluruh patung di kompleks situs megalitikum ini. Kami tiba di Kamarora sekitar pukul 18.30 WITA. Setelah sedikit berbincang dengan Pak Raymon, Ketua Kelompok Peduli Satwa yang juga bekerja sama dengan Balai TNLL, tentang rencana kami untuk melakukan pengamatan tarsius, kami langsung beristirahatt.

Pagi ini (27/02/2014), kami berencana untuk melakukan pengamatan terhadap tarsius pada pukul 05.30. kami akhirnya memulai “perburuan” tarsius di sela-sela pohon-pohon salak. Pohon salah kami sodok dengan menggunakan sebilah kayu, untuk “membangunkan” tarsius dari sarangnya. Tarsius cenderung memilih pohon salak, yang berduri, sebagai sarangnya untuk melindungi dirinya dari predator. Tak lama, kami berhasil mendapat satu tarsius betina yang kemudian ditangkap dan dimasukkan ke dalam kandang penangkaran agar lebih leluasa untuk proses pengambilan gambar.

Tim Telusur melakukan pengamatan Tarsius di Kamarora

Tim Telusur melakukan pengamatan Tarsius di Kamarora

Setelah mengucapkan perpisahan dengan Tarsius yang lucu itu, kami melanjutkan perjalanan menuju Kadidia untuk mengunjungi kolam air panas. Namun, ternyata kolam air panas Kadidia saat itu sedang dikuras dan akhirnya kami menuju sumber air panas lain dan menyempatkan mengunjungi salah satu rumah warga di Kadidia yang digunakan sebagai tempat penangkaran maleo yang masih kecil.

Hari ini (28/02/2014) kami berangkat menuju Desa Pakuli, desa yang terkenal sebagai desa penghasil obat-obatan tradisional. Disana kami bertemu Haji Sahlan, salah satu pemilik kebun obat-obatan tradisional. Namun karena kondisu beliau sedang kurang sehat, maka kami pergi melihat-lihat kebun-kebun obat hanya ditemani karyawannya saja. Setelah selesai berkeliling kebun dan sedikit berbincang mengenai tanaman-tanaman obat, kami melanjutkan perjalanan menuju Saluki untuk melihat penangkaran maleo.

Setibanya disana, kami lantas dipandu oleh Pak Herman, polhut (polisi hutan) kawasan Saluki. Untuk mencapai penangkaran Maleo ini, kami harus naik motor yang kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki selama beberapa saat hingga harus (kembali) menyebrangi sungai yang airnya mencapai lutut orang dewasa. Kami berkesempatan untuk memindahkan beberapa telur Burung Maleo yang tersebar di alam bebas ke pusat penangkaran. Di dalam penangkaran terdapat lima ekor Burung Maleo, dan jika populasi Burung Maleo di dalam kandang sudah melewati angka lima, maka burung-burung tersebut akan dilepas ke alam bebas. Hanya ada maksimal lima ekor maleo yang bisa hidup dipenangkaran tersebut. dan ternyata, Burung Maleo adalah seekor burung yang pemalu terhadap manusia. Bulu-bulu mereka akan sedikit rontok jika bertemu atau berinteraksi dengan manusia.

Setelah selesai, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Sidaunta, yaitu titik masuk untuk menuju Lembah Lindu. Kami tiba di Sidaunta sekitar pukul 16.00 WITA. Dari Sidaunta, kami harus naik ojek motor untuk menuju Lembah Lindu. Karena satu-satunya moda transportasi untuk menuju Lembah Lindu hanya ojek yang memakan waktu tempuh lebih kurang satu jam. Sebenarnya Lembah Lindu juga bisa ditempuh dnegan berjalan kaki, namun akan memakan waktu hampir lebih kurang tiga jam sekali perjalanan.

Keesokan harinya (01/03/2014) kami mulai menelusuri dan menjelajahi Lembah Lindu dari pagi hingga selesai sekitar pukul 11.00 WITA. Setelah itu kemudian kami berangkat menuju Mataue, lokasi penelusuran terakhir. Di Mataue kami harus menunggu selama lebih kurang dua jam terlebih sebelum akhirnya bisa bertemu dengan Tobani atau biasa disapa Ina Tobani (Ina=nenek), pembuat kain dari kulit kayu. Setelah perbincangan singkat mengenai kain tradisional dari kulit kayu yang sangat unik selesai, lantas kami berangkat menuju Gimpu untuk bergabung dengan tim darat untuk menunggu kedatangan tim arung jeram.

Oleh:

Oleh Yudhistira A. dan Satria Ramadhan

Posted in: FEATURE, Slider