Posted by on July 13, 2014

Saya bangun kesiangan. Sebentar. Bukan saya yang bangun kesiangan, tetapi matahari yang terlalu cepat menyapa saya di Pantai Plengkung. Di dalam tenda berwarna kuning berisi lima orang yang berbagi dengkuran. Dengan posisi di tengah, di antara teman-teman, saya masih terlelap dengan mulut menganga, x`Saya berganti posisi mencari letak kenikmatan sisa-sisa istirahat yang sebentar lagi berakhir. Hujan yang terus mengguyur sejak semalam tidak datang pagi ini, namun digantikan dengan cuaca cerah nan syahdu.

Sskk grasak grusuk sskk.. Bunyi apa itu? Sepertinya bunyi-bunyian tersebut berasal dari belakang tenda saya. Tepatnya di dapur dan letak makanan-makanan saya berada. Saya mengacuhkannya dan melanjutkan tidur. Sskk sskk krecek.. Bunyi-bunyian seperti orang membuka bungkus plastik dan membuka-buka plastik makanan kembali muncul. Saya mendengarkan dengan saksama masih dengan posisi tidur.

Bagea—ketua kelompok saya—lalu bangun dan membuka tenda, “Woi hush hush pergi lu! Hush..”.

Diikuti saya dengan rasa penasaran, “Ada apa sih?”.

Saya berdiri dan melihat sekeliling. Saya berada tepat di antara satu, dua, tiga, empat, li.. ah tidak tahu pokoknya lebih dari lima monyet seukuran anak kecil yang sedang mendesis-desis di atas pohon dan genteng. Mereka memandang ke arah saya yang kaku tak bergerak. Saat itu Bagea sudah pergi. Saya takut.

Asal tahu saja, tempat masak saya berada tepat di belakang tenda di atas kayu panjang yang biasanya dipakai untuk shalat. Belakang tempat tersebut dibatasi oleh tembok yang setelahnya berupa hutan. Semalam memang saya tidak menemukan satu ekor monyetpun. Tetapi pagi ini saya dikagetkan dengan banyaknya monyet berekor panjang sebesar anak kecil berumur 3 sampai 5 tahun. Salah satu di antara monyet tersebut sepertinya jagoan atau ketuanya, karena menurut saya dan Hana, dia monyet yang paling berani. Spekulasi tersebut diperkuat dengan adanya luka yang masih basah di ekornya. Berarti dia sering bertengkar, kan? Seram.

“Astaghfirullah!”, saya berteriak.

Monyet yang paling jagoan itu turun dari pohon dan langsung mengambil dua bungkus sup macaroni. Saya mencoba mengusirnya. Tetapi saya bingung, dia malah semakin berani dengan memamerkan gigi-giginya yang tajam dan mendesis marah ke arah saya. Saya mundur dan hanya diam terpana. Lalu Hana bangun dan mencoba membantu untuk mengusirnya. Tetapi malah semakin banyak monyet yang berkumpul dan berusaha untuk mengambil makanan yang lain.

“Wah bungkus mie rebusnya juga diambil, Han, gimana nih? Lagi ngidam mie banget padahal,” keluh saya sambil melihat bumbu-bumbu yang tercecer di atas meja kayu.

“Dhil, gua gak berani, kita amanin barang-barangnya dulu deh”, sahut Hana.

Lalu, kami, dengan gerakan yang lambat dan hati-hati, mencoba mengamankan makanan-makanan lain. Semua gerakan kami benar-benar diperhatikan dengan saksama oleh para monyet pencuri tersebut. Sekali kami membuat gerakan cepat dan aneh, monyet tersebut mendesis dan seperti ingin menerkam kami.

Setelah mengamankan makanan-makanan dari pencuri Plengkung. Saya memasak air untuk minuman hangat dengan posisi masak yang paling tidak nyaman selama hidup saya. Pengalaman memasak bersama monyet-monyet berekor panjang yang siap menerkam saya kapanpun mereka mau. Pasti Farah Quinn tidak pernah merasakan hal itu! Saya mengambil bungkus plastik berisi beberapa bungkus minuman sereal. Dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, monyet-monyet itu bersiap mengambil bungkus tersebut. Benar saja! Dengan gagah dan beraninya beberapa dari mereka turun dan langsung mencuri semua persediaan minuman sereal saya. Saya kembali diam, kaku, dan takut. Saya memperhatikan mereka, ketika dengan liarnya membuka bungkus tersebut dan memakannya. Gelagat makannya persis seperti manusia yang kelaparan.

Saya memutuskan untuk mengganti baju dan jalan-jalan di sepanjang pantai Plengkung yang cantik. Menikmati semilir angin yang menerpa wajah dan merasakan hangatnya sinar sang surya. Setelah puas, saya memutuskan untuk kembali. Lalu, saya teringat akan kembali berurusan dengan monyet-monyet pencuri tersebut. Kini monyet-monyet tersebut semakin liar dan semakin banyak. Kali ini saya tidak berani mendekat. Saya pasrah melihat monyet tersebut mencuri satu-satunya bungkus abon yang paling besar dan satu bungkus mentega. Saya baru tahu mereka juga suka mentega. Saya melihat keadaan dapur yang kacau. Mereka yang mengobrak-abrik, mengacaukannya, dan mencuri semua makanan saya!

“Dennis, udah makan belom? Makan dulu, gih.” Sapa saya ke Dennis yang memang bangun paling akhir.

“Udah kok. Wah gila lah tuh monyet. Gua makan gak tenang banget. Gua makan dikelilingin tuh monyet-monyet sambil ngeliatin gua dari seluruh penjuru”, jawabnya.

Ada cerita seru lagi dari Dennis, ternyata dia bangun karena dibangunkan oleh monyet-monyet tersebut. Karena pintu tenda dibuka, monyet tersebut masuk dan sedang melahap headlamp tepat di samping kepala Dennis.

“Gila. Kaget banget gua, masih belum sadar banget, pas melek tepat di samping kepala gua, monyet lagi ngemutin headlamp. Untung headlamp-nya Teguh!”

Mendengar cerita Dennis, saya jadi terpikir sesaat. Andai saja perkataan Swiper-jangan-mencuri-nya Dora diucapkan sampai tiga kali dapat benar-benar ampuh untuk mengusir monyet berekor panjang itu, saya tentu senang sekali.** (NF/AI)

Oleh:

Nur Faadhilah, M-918-UI

Posted in: FEATURE