Posted by on September 21, 2014

Gelap, lembab, dan sepi itulah mungkin yang terbayang di kepala ketika mendengar kata “Gua”. Namun siapa sangka ada cahaya surga di dalam gua ini.

Cahaya surga di Gua Grubug

Memasuki gua atau yang lazim disebut caving oleh para pencari adrenalin – petualang – ini mungkin kurang diminati dibandingkan dengan jenis-jenis wisata lainnya. Memang jenis wisata yang tergolong untuk minat khusus ini mempunyai penggemar sendiri. Selain memerlukan kemampuan khusus untuk melakukan petualangan yang mendebarkan ini. Namun belakangan ini, beberapa gua dapat dimasuki dengan bimbingan pemandu wisata beserta peralatan yang lengkap dan aman. Seperti gua yang berada di kawasan Gunung Kidul, Wonosari Yogyakarta.

Gunung Kidul, Wonosari merupakan kawasan karst yang terkenal dengan kompleks gua yang berjajar di sana. Salah satu gua yang terkenal di daerah Wonosari yaitu Gua Jomblang. Masyarakat Jawa sering juga menyebutnya Luweng Jomblang. Gua Jomblang merupakan gua vertikal yang mempunyai hutan purba yang cukup rapat di dasarnya. Gua Jomblang memiliki kedalaman 80 meter tapi untuk menuruninya terdapat jalur yang bervariasi mulai dari 15 meter – 80 meter. Terletak di rentangan perbukitan karst pesisir selatan yang memanjang dari Gombong, Jawa Tengah hingga kawasan karst Pegunungan Sewu, Pacitan, Jawa Timur ini, Gua Jomblang menawarkan sensasi petualangan yang mendebarkan.

Untuk menuruni Gua Jomblang diperlukan alat-alat yang berstandar internasional. Selain itu juga perlu didampingi dengan instruktur yang berpengalaman

Mulut Gua Jomblang ini mempunyai titik turun yang berbeda. Jalur VIP dapat Sobat Alam coba dengan hanya 20 m.

Berbekal alat-alat caving milik Mapala UI dan teman-teman mahasiswa pencinta alam Yogyakarta, saya bersama teman-teman mencoba menelusuri perut bumi ini. Dibantu juga oleh teman-teman HIKESPI, saya pun berlatih teknik SRT (Single Rope Technic) – teknik menuruni gua dengan satu tali -. Dengan alat-alat seperti seat harness, chest harness, ascender / croll, auto descender, footloop, jammer, carabiner, cowstail panjang, serta cowstail pendek, saya pun bersiap untuk pertama kalinya menuruni gua dalam hidup. “Ayoo body check dulu, pastiin semua udah bener, baca doa.. hihi” ucap Mas Patrick, anggota HIKESPI membimbing saya.

Riuh tawa, wajah-wajah serius yang bercampur rasa takut mengiringi saya dan teman-teman yang akan menuruni gua.. “Klik..tak.. tak..”itulah bunyi yang terdengar ketika tali bertemu dengan autostop – alat yang berfungsi seperti katrol untuk menuruni gua-. Ya, saya pun segera meluncur turun ke Gua Jomblang. Pertama saya cukup takut ketika kaki sudah tak menginjakkan tanah. Raut wajah berubah menjadi tegang. Kesan pertama yang saya rasakan ketika turun menggunakan seutas tali adalah takjub. “Woooow.. Ah gila..keren banget!” teriak saya sambil mengamati suasana gua. Ketika melihat ke atas, teman-teman yang lain pun meluncur turun di lintasan yang berbeda dan ketika melihat ke bawah, hutan purba yang terlihat.

Hutan Purba yang berada di dasar Gua Jomblang ini siap menyambut Sobat Alam saat mencapai dasar

Stalagtit: Ornamen gua dari batu kapur yang tumbuh dari bagian atas gua menuju ke dasar

Sampai di dasar gua, saya pun bersiap untuk memasuki lorong Gua Jomblang.Namun untuk mencapainya diperlukan sedikit trekking menuruni hutan purba yang ada di dasar gua. Aneka lumut, paku-pakuan, semak, hingga pohon-pohon besar tumbuh dengan rapat di dasar gua yang memiliki luas mulut sekitar 50 meter ini. Berada di hutan purba, menimbulkan kesan hijau, berbeda ketika sebelum menuruni gua. Kondisi yang gersang memang menjadi ciri khas kawasan karst yang minim air di permukaan atas. 15 menit menuruni hutan purba ini, tibalah saya di mulut lorong Gua Jomblang. Ah, lagi-lagi saya dibuat takjub dengan gua yang pertama kali saya turuni ini.

Selain turun dari Gua Jomblang, Sobat Alam juga dapat menuruni melewati Gua Grubug

Lembab dan gelap adalah kesan pertama memasuki lorong Gua Jomblang.Namun semua itu berubah jadi indah ketika melihat ornamen gua di kiri dan kanan gua ini. Butuh penerangan tambahan untuk melihat ornamen gua ini dengan jelas. Sinar headlamp pun menyinari stalagmit, stalagtit dan batu kristal hingga berkilauan dibuatnya. Langkah kaki saya pun bergerak menelusuri terowongan yang gelap gulita ini. Sampai akhirnya saya disambut dengan secercah cahaya nan indah di depan mata. Cahaya ini menelusuk masuk ke dasar gua. Ah sungguh indah pemandangan ini. Saya termenung sejenak memandang keindahan bak cahaya surga ini.

 Oleh

Wahyu Adityo Prodjo, M-875-UI

Posted in: FEATURE