Posted by on September 20, 2014

Tambling Wildlife Nature Conservation bukan hanya sekedar tempat rehabilitasi harimau sumatera dan Mercusuar Tambling. Masih ada tempat lainnya. Ini dia tempatnya.

Sebuah pos terbuat dari kayu berdiri di pinggir Danau Sleman.

Sebuah pos terbuat dari kayu berdiri di pinggir Danau Sleman.

Siang itu kala matahari tepat di atas kepala, saya beranjak untuk menyusuri pantai setelah mengunjungi Mercusuar Tambling. Sebelumnya juga saya sudah mampir ke Rescue Centre Sumatran Tiger. Nah kali ini saya bersama teman-teman akan menuju danau yang terbilang cukup unik di kawasan TWNC yang juga merupakan bagian dari Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Namanya adalah Danau Sleman dan Danau Menjukut. Konon diberi nama Danau Sleman karena di sini banyak nelayan yang tinggal di Tampang-Belimbing berasal dari Tanah Jawa. Oleh karena itu diberi nama agak ke-jawa – jawa-an. Memang sejak perjalanan dari Pelabuhan Bakauheni menuju Kantor Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, saya banyak menemukan nama-nama daerah khas Jawa. Berdasarkan penelitian Nugraha Setiawan yang berjudul Satu Abad Transmigrasi di Indonesia: Perjalanan Sejarah Pelaksanaan 1905-2005, Pemerintah kolonial Belanda, pada pelaksanaan kolonial yang pertama tahun 1905, telah memindahkan 155 keluarga dari karesidenan Kedu, Jawa Tengah menuju daerah kolonisasi Gedongtatan di Lampung. Kemudian pada tahun 1922, dibuka lagi pemukiman kolonisasi baru yang lebih besar yang diberi nama Wonosobo di dekat Kota Agung, Lampung Selatan. Hal tersebut menunjukkan bahwa Budaya Jawa telah masuk hampir satu abad yang lalu ini telah berakulturasi dengan budaya lokal.

Menyusuri pantai memang menjadi salah satu hobi saya. Mendengar ombak yang mengalun, berjalan di atas hamparan pasir pantai, dan diterpa angin laut menjadi sebuah keasyikan sendiri bagi saya. Ah nikmatnya. Namun ada yang lain di kawasan TWNC. Ketika menyusuri pantai, saya disambut papan pemberitahuan berwarna coklat yang tertulis “Welcome to Sleman Lake“. Ucapan selamat datang tersebut membuat saya tersenyum. Begitu baiknya pikir saya. Alam pun tanpa segan menyambut manusia. Namun apa yang dilakukan sebaliknya? Biarkan masing-masing individu yang menjawabnya.

menyusuri-danau-sleman-via-perahu

Menyusuri Danau Sleman Via Perahu

interior-dermaga

Interior Dermaga

Mobil operasional TWNC berhenti menggulirkan roda. Satu persatu mulai berhamburan turun dari mobil. Di mulut danau berdiri sebuah pondokan yang terlihat cocok untuk bersantai. Di Danau Sleman hampir sama sekali tidak terlihat sampah. Hanya hamparan rumput hijau dan air danau yang memenuhi kawasan ini. Pohon nipah juga membentang di sepanjang Danau Sleman. Kaki saya langkahkan ke sebuah dermaga yang juga merupakan sebuah tempat pertemuan. Kami menyeberang melewati sebuah jembatan. Sebuah spanduk berwarna hijau dan kuning bertuliskan “Semua orang di dunia wajib menjaga kelestarian alam demi kelangsungan hidup bumi” menyambut kami. Sebuah pesan konservasi yang menohok saya. Apa yang sudah saya perbuat untuk bumi? Mungkin waktu yang akan menjawabnya.

Dermaga ini beratapkan seng dan cukup panas berada di bawahnya. Beberapa meja berjajar di sudut tempat. Kursi-kursi pun tertumpuk rapi di sini. Namun saya tidak akan berdiam lama-lama di sini. Saya akan menyeberang menggunakan perahu bersama teman-teman dari TWNC. Satu persatu dari kami mulai naik ke perahu. Sang petugas mulai menyalakan mesin di ujung belakang bahtera. Mesin mulai menderu dan air danau tampak berbuih karena perahu mulai meninggalkan dermaga. Perjalanan di Danau Sleman ini menjadi kesempatan terbaik bagi saya. Dahulu ketika tahun 1995 ketika Tommy Winata berkunjung ke Danau Sleman, kawasan ini rusak berat. “Di Danau Sleman ini banyak ikannya tapi setelah kawasan ini diawasi” kata Darmo, pemandu kami. Penangkapan ikan dulu di sini dilakukan secara ilegal. Miris. Namun sekarang kondisi sudah membaik. Warga dilarang untuk menangkap ikan di sini. Ya, demi kebaikan untuk alam.

sga-sang-pengemudi-perahu

SGA sang pengemudi perahu

burung-terbang-di-danau-sleman

Burung terbang di danau sleman

Langit ketika itu sangat bersahabat dengan kami. Walaupun panas menyengat kulit, saya senang dapat mengamati setiap jengkal mata memandang. Di kapal ini kami duduk berjajar ke belakang. Warna biru juga terlihat karena kemeja resmi organisasi yang kami kenakan. Sekeliling danau tumbuh Pohon Nipah (Nypa fruticans). Daratan menyembul di tengah pohon-pohon itu tumbuh. Pohon bakau juga menjadi variasi vegetasi yang tumbuh di danau yang menyerupai kolam ini. Mata-mata kami dibuat takjub dengan keanekaragaman hayati yang ada di danau yang berada dekat garis pantai ini. Tetiba mata saya beralih ke langit. Seekor burung terbang tanpa mengepakkan sayapnya. Tampak tenang sang burung ini. Tak terasa rasa takjub ini harus berakhir. Perahu yang kami naiki telah sampai di tempat berlabuhnya.

masuk-ke-hutan

Masuk ke hutan

melintas-hutan

Melintasi hutan

melipir-menuju-danau-menjukut

Melipir menuju danau menjukut

Perjalanan kami lanjutkan dengan berjalan kaki. Sepanjang jalan kami berceloteh dengan teman-teman dari TWNC. Darmo terus bercerita tentang harimau yang pernah muncul dekat Danau Sleman. Robert Pickles, sang peneliti harimau dari Panthera tak ketinggalan dengan peralatan observasinya. Dia mengendus-endus di sebuah pohon. Kata dia, ada seekor harimau baru kencing di sini. Tak beberapa jauh, dia kembali menemukan jejak harimau. Lumayan seram. Namun saya tak perlu takut. Karena ada SGA –Security Group Artha– yang mendampingi kami dengan senapan semi otomatis. Rombongan kembali berjalan di pinggir pantai. Angin laut menghempaskan kami. Cukup syahdu perjalanan ini. Ujung perjalanan ini adalah Danau Menjukut di mana konon buaya muara (Crocodylus porosus) hidup di sana.

danau-menjukut

Danau Menjukut

bakau-meruncing

Bakau meruncing

bersantai-di-danau-menjukut

Bersantai di danau menjukut

bakau-di-danau-sleman

Bakau di danau sleman

Hampir satu jam berjalan dari Danau Sleman, kami berbelok memasuki ke dalam hutan. Kami menerobos pepohonan yang menjalar dan menghalangi langkah kaki. Setelah blusukan hampir 15 menit, kami keluar dari semak-semak dan ternyata Danau Menjukut berada di depan mata. “Ini Danau Menjukut. Danau ini adalah pertemuan muara sungai. Ya, kalo buaya muara sih ada. hehe” kata Darmo, sambil berjalan dan menjelaskan. Saya kembali takjub. Namun ada yang kurang sreg di hati. Masih ada sampah yang terbawa dari laut di sini. Sekeliling mata memandang, banyak pohon bakau (Avicennia) tumbuh di perbatasan garis pantai. Kawasan mangrove ini melindungi garis pantai dari abrasi. Sejenak kami duduk menikmati senja yang hampir datang. Celoteh-celoteh terlontar dari mulut-mulut yang tersenyum lebar. Tak disangka kami dapat menjejakkan kaki di sini. Selatan Pulau Sumatera. Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang tak terlupakan. Berkunjunglah ke sini dan nikmati surga yang tersembunyi di Selatan Sumatera. Jangan lupa jaga lingkungan ya!

Oleh

Wahyu Adityo Prodjo, M-875-UI

Posted in: FEATURE