Posted by on October 2, 2015

Pagi yang berbeda dari biasanya, pagi saat jantung kami berdetak lebih cepat. Rasa antusias bercampur takut karena pengalaman pertama segera dimulai.  Kami belum pernah mengunjungi tempat selama hampir satu bulan tanpa alat komunikasi dan tanpa bertemu keluarga atau teman. Selama itu hanya 26 calon anggota Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) dan 13 anggota Mapala UI yang menemani.

Tanggal 9 Agustus 2015, kami berangkat dari Pusat Kegiatan Mahasiswa menuju Stasiun Pasar Senen menggunakan commuter line. Satu gerbong pun penuh dengan orang-orang bertas besar dan padat. Ya, semua mata tertuju pada kami saat itu. Mungkin di benak mereka bertanya-tanya, “Hendak pergi kemana orang-orang ini?”

Rasanya ingin menjawab, “Kami akan melakukan perjalanan panjang Badan Khusus Pelantikan Mapala UI di Dataran Tinggi Hyang terbentang dari utara hingga selatan, dari Kota Probolinggo hingga Kota Jember, Bu, Pak. Mohon doanya”.

Perjalanan Panjang “Hyang, Menuju Taman Nasional“ merupakan ekspedisi dan observasi yang dilakukan oleh calon anggota Mapala UI atau kami menamakan diri sebagai “Punggawa Hyang”. Ekspedisi kami bertujuan untuk merekomendasikan Dataran Tinggi Hyang sebagai Taman Nasional. Kami akan melewati berbagai bentang alam seperti Puncak Kenek dengan tinggi 916 meter di atas permukaan laut (mdpl), Santung (2.044 mdpl), Hyang (2.910 mdpl), Argopuro (3.088 mdpl), Kawah Taman Kering (2.626 mdpl), Danau Taman Hidup (1.968 mdpl) dan Puncak Panggung (2.266 mdpl).

Tibalah kami pada titik awal perjalanan yaitu Dusun Rabunan, Desa Batur, Kecamatan Gading, Probolinggo, Jawa Timur. Hari pertama perjalanan panjang kami terasa begitu berat. Bukan hanya karena beban yang kami bawa lebih dari 35 kilogram, akan tetapi cuaca ekstrem berupa panas terik yang menyambut kami. Kulit terasa terbakar langsung tanpa perantara. Kerongkongan kami begitu kering. Matahari terasa dekat dengan kami.

Keadaan tersebut membuat kami khilaf sehingga meminum air layaknya sapi gelonggongan –proses pemberian minum secara berlebihan dengan tujuan peningkatan berat tubuh-. Persediaan air kami yang awalnya 142 botol, berkurang drastis dan di luar perencanaan. Sehingga pada hari kedua Tim Blitz –tim pertama yang bergerak untuk membuka jalur kembali turun untuk mencari sumber air guna menambah persediaan air kami.

Memasuki hari ketiga, sepertinya tubuh kami mulai beradaptasi dan menerima keadaan hutan. Pergerakan kami pun mulai cepat sehingga esoknya kami sampai pada Puncak Gunung Santung. Luar biasa! Puncak Santung terlihat sangat indah. Kami berdiri di atas awan. Sejauh mata memandang, kami melihat perbukitan Dataran Tinggi Hyang. Puncak ini ramai dengan kebahagiaan kami yang ditemani oleh edelweiss (Anaphalis javanica). Di arah Selatan kami sudah menanti igir-igir -pematang puncak gunung yang berbentuk cekung dan runcing- yang langsung mengarah ke Puncak Hyang.

Hari kelima, “surga” Santung kami berubah menjadi “neraka” ketika kami mulai menjajal igir-igir. Igir-igir Santung ternyata tak membiarkan kami lewat dengan mudah. Cuaca sejuk di pagi hari berubah menjadi panas yang begitu membara. Kami kira terik menyengat itu sudah selesai sejak dua hari lalu. Namun kini terulang kembali. Vegetasi yang rapat membuat Santung semakin tega menguras tenaga kami. Lagi-lagi haus kami tak terbendung. Bahkan moment ini lebih parah dari sebelumnya. Karena banyak Punggawa Hyang yang tumbang, maka persediaan air pun turun drastis, tak sampai 60 botol. Sementara, kami masih harus menyelesaikan sisa perjalanan kurang lebih lima hari lagi.

Tepat tanggal 17 Agustus 2015, Hari Kemerdekaan Indonesia, itulah hari yang berarti bagi kami. Kata-kata perjuangan “merdeka atau mati” terasa begitu nyata bagi kami. “Lanjutkan perjalanan atau mati”. Jika kami terlalu lambat berjalan atau tidak berjalan maka air akan habis dan hidup kami pun akan terancam. Keadaan kami semakin kritis dengan kabar punggawa utama atau Tim Blitz yang tumbang. Kami bertemu vegetasi yang menambah kesengsaraan kami yaitu Jancukan (Gardenia palmate) -sebuah vegetasi yang terdiri dari duri-duri tajam di sekujur tubuhnya-. Saat tersentuh tumbuhan Jancukan, duri akan menembus baju hingga kulit. Nestapa.

Esok harinya,  penanggung jawab bidang teknis, Fadli memberikan instruksi membuat tim untuk mencari sumber air karena keadaan kami yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan. Dengan bantuan peta, tim dipandu untuk mencari air di sungai. Akan tetapi, kemarau menelan sungai musiman itu. Sungai tak ada. Kering. Namun, saat itu seakan-akan Tuhan memberikan semangat kepada kami dengan menyajikan pemandangan yang indah. Senja yang terbentuk dengan gradasi jingga dan biru dan langit yang bersih menjadi penambah semangat. Kami juga melakukan observasi flora dan fauna selama perjalanan.  Hari keenam, sumber air belum terlihat.

Perjalanan memasuki hari ketujuh. Kami diiringi dengan pengharapan bertemu sumber air. Kami pun berjalan menuju Puncak Gunung Hyang. Tim pencari terus berusaha mencari air. Usaha itu selalu kandas. Saat itu, bukan baju mahal yang kami inginkan, bukan juga gawai modern yang ingin kami miliki. Namun, hanya air yang sangat diinginkan dan ada dalam pikiran kami. Sementara di kota, air begitu mudah didapatkan bahkan disia-siakan. Saat itu, air yang kami idam-idamkan.

Di tengah keputus asaan yang luar biasa, kami beristirahat di sabana luas. Lalu terdengar suara teriakan “AIR! AIR! WOY AIR!. Sejenak kami mendengarnya dan lalu memastikan asal sumber suara tersebut. Ternyata itu adalah suara Tim Pencari Air. Bahagia yang luar biasa menyelimuti kami. Sontak kami berlari menuju sumber suara dengan wajah sumringah. Rasa bersyukur terucap seiring dengan mengalirnya air di tenggorokan kami.

Hari-hari terakhir kami menelusuri Pegunungan Hyang tidak begitu nelangsa. Kami melewati Danau Taman Hidup di Gunung Argopuro yang indah. Cemas dan putus asa sudah berubah menjadi canda tawa. Taman Hidup menghidupkan semangat kami.

Akhirnya, muncul keputusan oleh Fadli untuk menyelesaikan perjalanan di Emergency Exit Point (titik akhir darurat jika terjadi kecelakaan atau hal lain di luar rencana), Desa Bremi. Kemudian kami pulang menuju pos komunikasi dan melanjutkan kegiatan bakti sosial di SDN 05 Darungan, Desa Petung Tulis, Kecamatan Tanggul, Jember, Jawa Timur sebagai bagian dari Perjalanan Panjang BKP Mapala UI 2015.

Seiring dengan langkah kaki menuju pulang, terekam kembali kejadian-kejadian yang telah kami lalui bersama-sama selama sepuluh hari yang lalu. Rasa lelah luar biasa, terik bagai pedang menyayat kulit, medan yang berat,  putus asa karena kehabisan air, berselisih serta beradu argumen, saling menolong, merawat dan menyayangi kerap terbayang. Dataran Tinggi Hyang menjadi saksi perjuangan hidup para Punggawa Hyang. Sekaligus menjadi saksi lahirnya rasa kebersamaan dan kekeluargaan kami.

Penulis: Daana Caesaria CAM. 010, Dinda Kirana CAM. 106, dan Yoseph Wihartono CAM. 025

Editor: Wahyu Adityo Prodjo (M-875-UI)