Posted by on January 25, 2017

Presentasi magang divisi sebagai salah satu tahap perekrutan calon anggota BKP Mapala UI 2015 di Sekretariat Mapala UI, Depok.

Depok, 25 Januari 2017 – Saat ini, dunia alam bebas Indonesia kembali berduka. Tewasnya calon anggota pada pendidikan dasar (Diksar) Kelompok Pencinta Alam (KPA) Universitas Bina Nusantara (BINUS) dan Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta serta tewasnya seorang pendaki di Gunung Pangrango, merupakan tiga kejadian yang masih melekat di pikiran kita.

Dalam melakukan regenerasi organisasi, sudah menjadi tradisi hampir di semua KPA di Indonesia untuk melakukan Diksar terhadap calon anggota baru yang ingin bergabung dengan organisasi terkait. Diksar tersebut umumnya berisi tentang pengenalan terhadap kegiatan alam bebas itu sendiri dan mengenai organisasi yang bersangkutan. Untuk menyampaikan ilmu-ilmu tersebut, tentunya dibutuhkan persiapan yang matang dan membutuhkan waktu yang cukup lama, mengingat dalam melakukan Diksar, organisasi dan seluruh anggotanya bertanggungjawab terhadap keselamatan para calon anggota yang “dididik” pada Diksar tersebut. Persiapan tidak hanya menyangkut persiapan fisik para “pendidik”, namun juga meliputi tentang pembekalan pengetahuan dan keahlian, kesiapan materi pendidikan, sarana pendukung pendidikan, hingga keselamatan bagi calon anggota, senior serta pembina yang turut dalam Diksar tersebut.

Pelatihan Single Rope Technique (SRT) sebagai persiapan perjalanan Rescue dan Medis BKP Mapala UI 2015, Sekretariat Mapala UI, Depok.

Walau sudah dipersiapkan dengan baik, bukan berarti kegiatan alam bebas terhindar dari bahaya yang mengancam. Untuk mengurangi resiko akan bahaya tersebut, sudah seharusnya Diksar dalam KPA disiapkan secara matang, dengan berbagai pertimbangan akan resiko yang ada. Hal lain yang dapat dilakukan adalah membuat peninjauan ulang dan standarisasi terhadap metode Diksar, di mana sebuah pendidikan tidak seharusnya menggunakan kekerasan dalam penyampaian ilmunya. Dikutip dari National Geographic Indonesia (11/14) “Mapala UI dan Wanadri sebagai klub kegiatan alam bebas tertua di Indonesia, memiliki tradisi mendidik dalam bentuk pelatihan calon anggota baru. Di Mapala UI diperlukan sedikitnya 6 (enam) bulan teori dan praktek beragam jenis kegiatan alam bebas dan ditutup dengan masa pengembaraan dalam “perjalanan panjang” selama lebih dari sepekan dan berujung dengan perjalanan menuju lokasi tertentu untuk dilantik menjadi anggota baru dengan nomer anggota. Mungkin saja pola itu diadopsi oleh beberapa ekskul klub pencinta alam, tetapi seringkali dimodifikasi dengan tambahan kekerasan dari senior kepada junior agar tidak “cengeng””

Meski kegiatan alam bebas memiliki resiko yang tinggi, bukan berarti kegiatan ini tidak memiliki manfaat. Selain mengajarkan bagaimana cara berkegiatan di alam bebas yang aman, Diksar KPA tentunya punya manfaat lainnya. Dikutip dari artikel Kompas.com (7/14) “Disiplin, tangguh dan ulet, serta kreatif adalah keharusan dalam kehidupan atau bergiat di alam bebas. Tetapi, karakter itu mustahil tumbuh dalam cara mendidik dengan kekerasan dan instan.” Ketua Badan Khusus Pelantikan (BKP) Mapala UI pertama, BKP 1980, Nashry A. Yunus menjelaskan bahwa dasar pemikiran yang paling utama dalam beregenerasi adalah kita merupakan mahasiswa/i calon intelektual, sehingga dalam membuat sistem Diksar harusnya diutamakan pengasahan kemampuan bergiat di alam bebas yang intelektual pula. Sedangkan fisik bisa dilatih menyusul sesuai kebutuhan pokok.

“Sebagai KPA tertua di Indonesia, hingga kini Mapala UI dapat terus meneruskan regenerasi tanpa kekerasan fisik, sebaliknya mengedepankan pendampingan (mentoring). Saya rasa kami dapat terus mencetak anggota yang loyal, memiliki kemampuan basic outdoor skill yang mumpuni dan aktif bergiat di alam bebas dengan konsep tersebut”, ujar Yohanes Poda Sintong (M-954-UI), Ketua Umum Mapala UI 2017.

Mentoring dengan senior beda generasi, Perjalanan 1 BKP Mapala UI 2016 di Surya Kencana, TNGGP.

Mapala UI turut berduka cita atas kepergian teman kita – Ilham Nurfadmi Listia Adi, Muhammad Fadhli, dan Syaits Asyam – dari Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Semoga kejadian ini dapat menjadi pelajaran untuk kita semua, terutama sebagai mahasiswa pencinta alam, karena mencintai manusia merupakan bagian dari mencintai alam.

 

Oleh:

Irene Swastiwi Viandari Kharti (M-920-UI).

 

Sumber:
1. http://regional.kompas.com/read/2016/12/06/19043441/17.mahasiswa.lakukan.pendakian.ilegal.di.gunung.mas.satu.orang.meninggal
2. https://nasional.tempo.co/read/news/2017/01/25/063839500/begini-indikasi-kekerasan-dan-penganiayaan-3-mahasiswa-uii
3. http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/11/pecinta-alam-pendidikan-karakter-sebenarnya
4. http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/07/mapala-ui-tidak-setuju-atas-pembubaran-pecinta-alam-sma
5. http://edukasi.kompas.com/read/2014/07/24/14131261/.ekskul.pencinta.alam.pendidikan.karakter.yang.sebenarnya

Comments

  1. Adiseno
    January 25, 2017

    Leave a Reply

    Sharing yang bagus. Terima kasih.

    • Mapala UI
      March 27, 2017

      Leave a Reply

      Terima kasih bang Adi 🙂

  2. Anonim
    January 25, 2017

    Leave a Reply

    Malu maluin aja sampe Ada kabar duka!. Mau nyiksa org sampe buat Hitam di atas Putih situ komunitas sehat???

    • Mapala UI
      March 22, 2017

      Leave a Reply

      Mohon maaf, kasus yang saat itu terjadi menyangkut Mapala UII (Universitas Islam Indonesia), sedangkan kami adalah Mapala UI (Universitas Indonesia).

  3. Rina
    January 26, 2017

    Leave a Reply

    Judul dan isi nggak nyambung, isi tidsk membahas soal kekerasan, padahal ada di judul

  1. Berita Kepada Kawan – Pers Mahasiswa - […] Tentu banyak metode untuk belajar mencintai alam dan tanpa harus menggunakan kekerasan. Terlebih dunia di akademis yang memiliki budaya…

Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*