Posted by on April 26, 2017

Atap Sumatera

Matahari belum menunjukkan sinarnya saat saya mulai bersiap-siap menuju bandara Soekarno-Hatta. Hari itu, saya akan menuju Padang bersama dua rekan yang lain untuk mencoba jalur baru menuju Puncak Kerinci melalui Solok Selatan, Sumatera Barat. Sebelum bisa menghirup udara Solok Selatan, kami harus terluntang-lantung selama tiga jam di Bandara Minangkabau lantaran supir travel kami telat menjemput. Sesampainya di Solok Selatan hari sudah malam, kira-kira sekitar pukul 21.15 WIB. Di sana kami menuju ke Sekretariat Walet Insan Sangir (Winalsa), organisasi pencinta alam yang terbuka untuk umum di daerah Solok. Rasa lelah karena lamanya perjalanan tak membuat kami lantas bermalas-malasan. Setelah makan malam dan bersih-bersih diri, kami mulai diskusi mengenai jalur yang akan kami lewati esok hari. Jam sudah menunjukkan pukul 00.15 WIB ketika kami mengakhiri diskusi itu.

Minggu, 15 Januari 2017 kami mulai menyiapkan perbekalan yang harus dibawa. Beras, makanan ringan, sarden, berkantung-kantung sayur dan daging, oatmeal serta air mineral menjadi perbekalan kami saat itu. Kami harus memastikan agar makanan yang kami bawa cukup untuk memenuhi kebutuhan makan 11 orang selama lima hari. Cuaca cerah seperti mendukung keberangkatan kami menuju puncak tertinggi di Sumatera itu. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di camping ground Gunung Bontak dari Sekretariat Winalsa, hanya sekitar 30 menit. Langit bertabur bintang menemani kami sambil berbagi cerita mengelilingi api unggun malam itu.

Keesokan harinya, kami mulai jalan sekitar pukul 09.00 WIB pagi. Sepertinya hari itu kami kurang beruntung, karena hanya bisa melakukan perjalanan hingga camp 2. Setengah hari berjalan, ternyata kami hanya berputar di sekitar camping ground Bontak. Ketika kami akhirnya sampai di ladang warga pada jam 12.00 WIB, rasa kesal bercampur senang ada di diri kami. Kesal karena hanya berputar-putar di sekitar camping ground, dan senang karena akhirnya menemukan jalan yang benar.

Setelah istirahat makan siang dan mengatur ulang pergerakan, kami pun mulai memasuki hutan milik Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Suasana sejuk dan pemandangan yang masih asri sangat terasa mulai dari Pintu Rimba. Tak lama kami berjalan, kami disuguhkan dengan medan yang menantang. Kami harus menyeberangi Sungai Blangir Besar. Sungai itu dinamakan demikian karena memang ukurannya yang lumayan lebar. Untungnya saat itu sungai tidak sedang banjir dan ada batang kayu besar yang bisa dijadikan pegangan untuk menyeberang saat meloncati batu-batu cadas yang besar.

Sungai Blangir Besar

Sungai Blangir Besar

Camp 2 merupakan tempat yang sangat luas dan bisa menampung banyak orang, mungkin bisa 100 orang. Keuntungan kemah di tempat ini, para pendaki mempunyai banyak stok air, karena selain di Sungai Blangir Besar, ada juga sungai musiman yang dialiri air walaupun tidak banyak. Meski begitu, pendaki harus tetap waspada ketika berkemah di sini, karena vegetasi di tempat ini berupa jelatang dan semak belukar. Jelatang merupakan salah satu tumbuhan yang jika tersentuh, kulit akan terasa panas dan sakit dalam waktu cukup lama.

Selasa, 17 Januari 2017 kami melanjutkan perjalanan pukul 09.00 WIB pagi. Saatnya petualangan dimulai. Hutan yang masih sangat asri dan pepohonan yang rapat menemani perjalanan kami. Setelah melewati camp 2, tak hanya tumbuhan yang menemani kami, binatang pun “mengikuti” kami selama perjalanan. Bagi para pendaki, jangan lupa untuk selalu mengecek sepatu dan kaki, ya, karena selama di jalur ada binatang yaitu pacet. Perjalanan dari camp 2 ke camp 3, kami mendapati beberapa titik air. Selama perjalanan, kami beberapa kali mendengar suara Krangkong (horn bill) yang terkadang terbang di atas kami. Medan yang kami lewati sangat beragam, mulai dari yang landai, menanjak, dan menurun ketika akan melewati sungai musiman. Sesampainya kami di camp 3, hari sudah mulai gelap. Berhubung perjalanan ini adalah perjalanan untuk survey jalur, setelah makan malam kami pun berdiskusi untuk mengisi form penilaian jalur yang nantinya akan dilaporkan sebagai rekomendasi.

Perjalanan mulai memasuki hari ketiga, tim melanjutkan perjalanan dengan anggota yang berjumlah delapan orang. Ada seorang anggota tim yang sakit dan direkomendasikan untuk tidak melanjutkan perjalanan. Ia ditemani dua orang untuk kembali ke titik awal perjalanan, sesuai standar keamanan dalam pendakian, yakni jumlah pendaki minimal 3 orang. Jalur setelah camp 3 tak ada ampun karena didominasi jalur menanjak. Maklum, dari ketinggian 1.800-an mdpl (meter di atas permukaan laut) para pendaki harus mencapai target ke camp Cantigi di ketinggian sekitar 3.100 mdpl.

Walau perjalanan semakin melelahkan, rasa lelah itu terbayar ketika menuju camp Cantigi. Pendaki akan “dibawa” ke negeri Narnia dan The Lord of The Rings, karena  akan melewati hutan lumut. Tak jarang kami menemui jamur yang cukup banyak tumbuh di batang-batang pohon, bahkan ada jamur yang ukurannya besar juga. Perjalanan yang melelahkan itu akhirnya berakhir tepat pukul 19.00 WIB. Beruntunglah di Sumatera matahari tenggelam lebih akhir dibanding Jawa, jadi walaupun sudah lebih dari jam 18.00 WIB, kami masih dapat melihat jalan dengan bantuan cahaya matahari senja.

Hari Kamis pun datang, saatnya summit attack! Rencana jalan pukul 03.00 WIB gagal ketika anggota tim tidak semuanya bangun dari tidur nyenyaknya. Ditambah udara yang sangat dingin membuat kami merasa malas beranjak dan melepas sleeping bag. Tim baru benar-benar jalan pukul 04.30 WIB, cuaca cerah bertabur bintang membuat perjalanan kami menyenangkan. Apalagi perjalanan kami dilatarbelakangi dengan lampu kota yang berkelip di kejauhan. Pukul 05.26 WIB kami tiba di pos Winalsa, pemandangan indah semakin jelas karena pohon Cantigi sudah tidak menutupi pandangan. Beruntung saat kami naik, angin tidak bertiup kencang, karena jalur mulai memasuki daerah pasir dan berbatu.

Medan bebatuan menuju puncak

Matahari mulai terlihat beranjak dari peristirahatannya, pemandangan terlihat semakin banyak dan semakin indah. Danau Belibis tampak di sebelah kanan jalur pendakian, selain itu juga terlihat hamparan bukit yang sangat panjang, serta tempat tinggal penduduk yang nampak sangat kecil. Setelah perjalanan melewati beberapa puncak bayangan, pukul 07.03 WIB sampailah kami di Tugu Yudha. Titik ini merupakan pertemuan jalur Kayu Aro dan Solok Selatan. Dari Tugu Yudha kami berjalan perlahan melewati jalur batu dan pasir. Sekitar 15 – 20 menit sampailah kami di puncak Kerinci. Cuaca saat itu sangat cerah. Langit biru, teriknya matahari, dan gerombolan awan menjadi latar foto kami saat itu.

Di puncak yang mempunyai ketinggian 3.805 mdpl itu hanya ada beberapa orang. Saat kami berkenalan ternyata mereka para pendaki dari Universitas Sriwijaya dan Kayu Aro. Setelah puas berfoto dan mengagumi pemandangan sekitar, kami bergegas turun karena perut juga sudah minta diisi.

Makan selesai, saatnya packing untuk turun. Tim berjalan dari camp Cantigi saat jam menunjukkan pukul 12.00 WIB. Di perjalanan, kami diberi “bonus” hujan oleh Tuhan. Jadilah jalan yang becek dan licin kami jumpai hingga camp 3. Dari beberapa orang yang terpeleset, nampaknya saya menjadi anggota tim dengan “rekor” terbanyak, karena jalan yang licin. Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB ketika kami sampai di camp 3. Lelah yang terasa saat itu membuat kami bergegas membuat tempat bernaung. Hari itu istirahat kami lebih cepat, karena lelah dan cuaca mendukung untuk segera tidur lebih awal.

Hari Jumat, 20 Januari 2017 matahari seperti malu-malu memancarkan sinarnya. Angin yang bertiup juga masih lumayan kencang. Setelah sarapan pagi, kami bergegas turun untuk menyelesaikan perjalanan yang melelahkan ini. Beranjak dari camp 3 pukul 10.00 WIB dan tiba di entry point pukul 15.00 WIB. Sebetulnya perjalanan turun dapat ditempuh sekitar 3 jam saja. Namun, karena kami sempat beristirahat cukup lama untuk menikmati suasana Sungai Blangir Besar, jadilah perjalanan turun kami bertambah dua jam. Senangnya kami ketika dari kejauhan mendengar sirene dari mobil yang akan menjemput. Apalagi ketika sudah sampai di entry point dan bertemu dengan jalan utama.

Saat rombongan tim yang menjemput datang, kami langsung diberi buah semangka, pir, dan air mineral. Langsung saja kami sikat semua buah yang ada. Sambil mengobrol dan menikmati hidangan, kami pun beranjak pergi meninggalkan entry point menuju Hot Waterboom Sapan Maluluang, Solok Selatan. Akhirnya perjalanan menuju puncak Kerinci via Solok Selatan usai sudah. Hutan yang masih asri dan masih terjaga memberikan pengalaman tersendiri bagi pendaki yang akan menuju puncak Gunung Kerinci melalui jalur Solok Selatan. Wajib dicoba untuk anda yang menyukai tantangan.

 

 

 

ditulis oleh Fadjrin A. Zihni (M-941-UI) disunting oleh Irene Swastiwi V. K. (M-920-UI) dan Firman Arif (M-916-UI)

Posted in: FEATURE

Comments

Be the first to comment.

Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*