Posted by on October 5, 2017

Bagi para speleolog maupun para penggiat telusur gua, mendatangi sebuah bentang alam karst yang belum terjamah, mencari, dan menelusuri gua-gua baru menjadi obsesi tersendiri. Terlebih mampu menemukan gua yang amat dalam. Pulau Seram, salah satu pulau utama di Kepulauan Maluku dengan karst Formasi Manusela-nya menjadi primadona bagi kalangan speleolog domestik hingga mancanegara.

Hatu Saka, satu di antara puluhan morfologi positif karst di utara Pulau Seram gagah menjulang di tengah tebalnya kanopi pepohonan hutan Taman Nasional Manusela. Meskipun gunung-gunung menjulang di sekitarnya, Masyarakat Adat Negeri Saleman menasbihkan Hatu Saka sebagai gunung yang paling sakral, tempat bersemayam bagi roh-roh leluhur negerinya.

(Hatu Saka berdiri angkuh menembus awan.
Sumber : Dokumentasi Mapala UI)

Toponimi Hatu Saka merupakan pemberian nama yang autentik dari Masyarakat Adat  Negeri Saleman. ‘Hatu’ dalam bahasa setempat memiliki makna batu atau gunung, sedangkan ‘Saka’ bermakna tiang dan ada pula yang memaknai ‘Saka’ sebagai pusaka. Hatu Saka, gunung pusaka.

Hatu Saka awalnya merupakan nama yang diperuntukkan bagi morfologi positif karst dengan ketinggian puncaknya sekitar 1400 mdpl. Hingga pada akhirnya, sebuah gua berbentuk sumuran atau shaft yang menganga ditemukan oleh masyarakat di sekitar Puncak Hatu Saka. Pemaknaan Hatu Saka sebagai gunung yang berbentuk tiang berawal dari penemuan gua yang membelah Hatu Saka menjadi dua.

Akhir 90-an hingga awal milenium ini, di Indonesia sempat terjadi perdebatan bagi kalangan terbatas penggiat telusur gua tentang penasbihan gua terdalam di Indonesia. Gua Leang Pute di Taman Nasional Batimurung-Bulusaraung, Sulawesi Selatan dengan kedalaman sekitar 265 meter pada akhirnya harus melepas predikatnya sebagai gua terdalam di Indonesia kepada Gua Hatu Saka, setelah hasil dari Ekspedisi Internasional Menjelajah Goa pada tahun 1998 terpublikasi ke Indonesia.

Ekspedisi Internasional Menjelajah Goa pada tahun 1998 bukanlah satu-satunya tim yang tertarik menelusuri Gua Hatu Saka. Misteri kedalaman Gua Hatu Saka mengundang banyak para penelusur gua untuk menelusurinya. Hingga tahun 2017 ini tercatat lima tim telah berusaha untuk menelusuri gua terdalam di Indonesia ini.

Sydney University Speleological Society (SUSS) dan Wessex Caving Club (WCC) dalam Seram Expedition 1996 tercatat sebagai tim pertama yang mencoba menjajaki dalamnya Hatu Saka. Kurangnya perlengkapan dan kondisi gua yang masih dialiri air pada pertengahan Agustus 1996, memaksa tim ini untuk mengurungkan niat mereka menelusuri Gua Hatu Saka.

( Martin Scott, Anggota SUSS-WCC Seram Expedition 1996 mengamati dari tepi Gua Hatu Saka. Sumber : SUSS Bulletin Vol.37, No. 2)

Dua tahun berselang, rasa penasaran membawa Sue Bonar, Danielle Gemenis, Andy Morse, dan Martin Scott serta 10 rekan barunya dalam tim Ekspedisi Internasional Menjelajah Goa kembali menyambangi Hatu Saka. Penelusuran gua pada awal Desember, 1998 ini dapat dibilang mendapatkan kesuksesan yang besar. Sebuah bukti penelusuran tak terbantahkan berupa peta Gua Hatu Saka dengan grade 4C berhasil diciptakan. Dengan medan yang begitu sulit, peta karya Chris Andrews ini begitu membantu untuk mengilustrasikan kerumitan Gua Hatu Saka.

(Peta Gua Hatu Saka, bukti tak terbantahkan keberhasilan Ekspedisi Internasional Menjelajah Gua 1998. Sumber : Compass & Tape, Vol.14, No. 48)

Jika diibaratkan penelusur gua adalah benda yang mengandung unsur logam besi sangat tinggi, maka Gua Hatu Saka adalah magnetnya. Empat belas tahun setelah  keberhasilan Ekspedisi Internasional Menjelajah Goa, satu lorong di dasar teras pertama yang belum sempat terpetakan menarik minat tim Acintyacunyata Speleological Club, Yogyakarta untuk menyelesaikannya. Namun, kondisi alam berkata lain. Ekspedisi yang berlangsung pada pertengahan 2011 ini harus menerima kenyataan melepas Gua Hatu Saka secara bijaksana ketika banjir bah seketika datang menghujam Gua Hatu Saka.

Lima tahun berselang tepatnya Agustus 2016, Aggioramento Seram 2016, sebuah tim ekspedisi telusur gua dari Italia berhasil memetakan lorong di teras pertama (220m) dan menghubungkannya dengan teras dasar Gua Hatu Saka (388m). Terhubungnya teras pertama dengan teras dasar melalui lorong yang belum sempat terpetakan sebelumnya oleh ekspedisi gabungan yang diikuti oleh penelusur gua ulung dari lima negara, menjadikan tim ini berhasil menyelesaikan misi memetakan Gua Hatu Saka, memetakan puzzle raksasa gunung pusaka.

(Berkabut, Gua Hatu Saka seperti tak berujung.
Sumber : Dokumentasi Mapala UI)

Tuntasnya peta Gua Hatu Saka bukan berarti akhir dari daya pikatnya. Luasnya kajian Speleologi pun akhirnya menghantarkan kami, Manusela Speleology Expedition 2017, untuk mencoba peruntungan menelusuri gua terdalam di Indonesia ini. Dari berbagai tujuan yang mengemuka, pendataan biospeleologi dan pengibaran sang saka merah putih menjadi tujuan utama kami menelusuri gua ini. Esok akan menjadi hari yang penting bagi kami, semoga Hatu Saka dan cuaca tidak berbias dengan hasrat mulia kami.

 

Depok, 15 September 2017

Ridwan Arif

Posted in: FEATURE

Comments

Be the first to comment.

Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*