Posted by on October 5, 2017

Berkembangnya ilmu Speleologi dan menggeliatnya kegiatan telusur gua di Indonesia beberapa dekade ini membuat banyak penelusur gua terbersit mencari dan menelusuri gua-gua yang dalam di hamparan bentang alam karst Indonesia. Lorong-lorong gelap dan tak berujung sudah menjadi candu tersendiri bagi mereka.

Terpublikasinya hasil “Ekspedisi Internasional Menjelajah Goa” pada tahun 1998 pun pasti juga menggugah para penelusur gua di negeri ini menelusuri Gua Hatu Saka, entah dengan berbagai macam ambisi dan tujuannya. Mencoba untuk tidak munafik, predikatnya sebagai gua terdalam di Indonesia memang begitu memikat. Namun kecakapan fisik, teknik, dan mental nampaknya belum cukup untuk menghantarkan sebuah tim sukses menelusuri gua yang satu ini.

Itulah yang tim kami rasakan, Manusela Speleology Expedition 2017 selama menelusurinya. Pun mungkin demikian dengan apa yang dialami Seram Speleology Expedition 2011, Acintyacunyata Speleological Club, Yogyakarta. Kami sama-sama mengalami insiden terperangkap banjir di dalam Gua Hatusaka. Menelusuri  Gua Hatu Saka nyatanya lebih kompleks dari sekadar menelusuri gua vertikal dengan pitch dalam. Beberapa unsur terkait morfologi dan klimatologi harus diperhatikan secara seksama.

Gambar 1. Gua Hatu Saka dari Phantom Moraya

Bentang alam karst sering dianalogikan dengan lanskap alam yang kering dan miskin vegetasi. Namun karst Formasi Manusela ini berbeda. Bentang alam karst di Kawasan Taman Nasional Manusela bisa dibilang sebagai contoh nyata karst hijau di Indonesia. Bentang alam karst yang tertutup oleh rimbunnya kanopi hutan.

Hatu Saka pada dasarnya merupakan sebuah bentukan morfologi karst positif dengan ketinggian sekitar 1400 mdpl. Morfologi bukit karst ini hampir seperti layaknya menara karst, hanya saja Hatu Saka lebih besar dan terhubung dengan bukit-bukit di sekitarnya.

Di atas menara raksasa Hatu Saka dapat ditemui bentukan lahan dolina. Gua Hatu Saka sendiri terletak di suatu dolina yang berbentuk memanjang di sekitar ketinggian 900 mdpl. Di dalam cekungan tertutup ini, berkembang aliran Sungai Niatolun yang sewaktu-waktu akan mengalir ketika hujan intensitas sedang hingga tinggi. Semua limpasan permukaan akan terpusat menuju sungai utama yang mengalir ke dalam Gua Hatu Saka. Jenis cekungan tertutup seperi ini lebih mirip dengan bentukan lahan lembah buta. Semua limpasan permukaan yang mengalir di sepanjang Sungai Niatolun akan ditelan masuk ke dalam Gua Hatu Saka.

Gambar 2. Pemodelan 3D Hatu Saka dari arah barat laut, Gua Hatu Saka tampak terletak di dalam sebuah dolina.

Gambar 3. Pemodelan 3D Hatu Saka dari arah timur laut, Gua Hatu Saka tampak terletak di dalam dolina.

***

Jika seorang penelusur gua tak punya daya untuk mengubah morfologi Hatu Saka, agar penelusurannya lebih aman, langkah yang harus dilakukan adalah memperdalam riset iklim dan cuaca. Berkaitan dengan klimatologi, Sandy [1] menyatakan bahwa garis bujur 120◦ BT sebagai batas rezim hujan barat dan timur di Indonesia. Artinya, Kepulauan Maluku yang berada di timur 120◦ BT masuk dalam rezim hujan timur. Imbasnya Pulau Maluku memiliki curah hujan maksimum pada bulan Mei hingga Juni. Dan mengalami curah hujan minimum pada bulan September hingga Oktober.

Studi lebih lanjut, berdasarkan pola hujan, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika  memetakan Pulau Seram bagian Utara sebagai wilayah dengan pola hujan yang dipengaruhi monsoon sedangkan bagian Selatan sebagai wilayah dengan pola hujan yang bertipe lokal. Namun tidak menutup kemungkinan, letak Hatu Saka berada pada zona peralihan dua pola hujan tersebut. Imbasnya, sangat memungkinkan Hatu Saka memiliki curah hujan maksimum yang jatuh pada bulan Mei – Agustus akibat pengaruh pola hujan lokal serta tidak menutup kemungkinan memiliki curah hujan maksimum yang jatuh dari akhir  hingga awal tahun akibat pengaruh pola hujan monsoon.

Berdasarkan pengamatan, Agustus ini cuaca Hatu Saka nampaknya lebih cenderung dipengaruhi  oleh hujan orografis. Hujan yang turun merupakan hasil dari  kondensasi uap udara dari Laut Seram yang bergerak naik tertiup angin. Hasilnya, hujan selalu turun ketika hari menjelang siang hingga petang.

Gambar 4. Dari Pantai Ora, Hatu Saka berselimut kabut kala hari beranjak siang.

Letak Pulau Seram yang berada di Wilayah Indonesia Timur sejatinya riskan terpapar anomali El Nino Southern-Osciliation (ENSO). La Nina yang membawa uap air dalam jumlah banyak dari Samudera Pasifik akan membuat curah hujan di Indonesia meningkat. Di sisi lain, El Nino juga memungkinkan menurunkan besaran curah hujan yang turun di Indonesia. Salah satu kunci keberhasilan Ekspedisi Internasional Menjelajah Goa pada 1998 dan Aggioramento Seram pada 2016 adalah ketepatan waktu. Entah merupakan hasil riset yang mendalam atau sekadar kebetulan, kedatangan tim ekspedisi pada akhir tahun 1998 [2] dan pertengahan 2016 [3] bertepatan saat  Pulau Seram dan sekitarnya cenderung lebih kering daripada biasanya.

Penelusuran Gua Hatu Saka memang tidak mudah. Pemahaman morfologi dan klimatologi sangat dibutuhkan. Pulau Seram yang berada di Wilayah Indonesia Timur memang memiliki iklim dan cuaca yang kompleks. Keterbatasan data dan kemahiran untuk mengolahnya menjadi data prediksi yang akurat memang menjadi tantangan dalam persiapan penelusuran Gua Hatu Saka.

 

  1. Sandy. I Made. 1987. Iklim Regional Indonesia. Jakarta : Departemen Geografi FMIPA UI.
  2. Desember, 1998 curah hujan di sekitar Hatu Saka cenderung rendah berkaitan dengan pengaruh pola hujan lokal yang hanya memiliki curah hujan maksimum pada bulan Mei-Agustus.
  3. Agustus, 2016 curah hujan di sekitar Hatu Saka cenderung rendah berkaitan dengan pengaruh anomali ElNino.
Posted in: FEATURE

Comments

Be the first to comment.

Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*