Posted by on August 11, 2018

Jumpa pers Ekspedisi Bumi Cenderawasih pada 23 Juli 2018. Dihadiri oleh (kiri ke kanan) Fathan Qorib (Ketua Pelaksana EBC), AG Sudibyo (Kasubdit Fasilitas, Pengembangan, dan Pemberdayaan Seni Budaya UI), Kol Inf Sri Widodo (Asisten Operasi Kodam XVIII Kasuari),Muhammad Jazmi (Ketua Mapala UI). (Dok. Mapala UI/Karina Londy)

(Depok, 23 Juli 2018) Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) akan menyelenggarakan kegiatan Ekspedisi Bumi Cenderawasih di Papua Barat pada 23 Juli – 28 Agustus 2018 mendatang. Ekspedisi ini terdiri atas dua sub-kegiatan, yaitu penelitian wisata minat khusus “Pesona Alam Cenderawasih” dan kegiatan sosial “Bhakti Papua”.

Dalam Pesona Alam Cenderawasih, tim Mapala UI akan menjelajahi tiga situs yang potensial untuk dijadikan destinasi wisata minat khusus di Papua Barat. Situs tersebut adalah kawasan karst di Kabupaten Teluk Bintuni serta Sungai Prafi dan site jump paralayang di Kabupaten Pegunungan Arfak.

Selain kegiatan penjelajahan, Mapala UI juga akan menggelar bakti sosial bidang kesehatan di Distrik Anggi dan Distrik Anggi Gida, Kabupaten Pegunungan Arfak. Target utama dari kegiatan bakti sosial ini selain untuk menyediakan fasilitas kesehatan juga untuk mendata situasi kesehatan masyarakat di kedua distrik tersebut.

Tim ekspedisi ini beranggotakan 36 mahasiswa UI dan 6 mahasiswa Institut Kesenian Jakarta. Selain itu, para penggiat alam senior Mapala UI serta pelaku industri wisata petualangan juga turut serta dalam tim sebagai instruktur dan pengawas. Mereka adalah David Agustinus Teak (MK-906-UI), Lody Korua (MK-845-UI), dan Setyo Ramadi (M-299-UI).

Turut serta Dosen Jurusan Pariwisata Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, Diaz Pranita, yang akan menyusul pada akhir Agustus untuk mengikuti Diskusi Publik bersama Mapala UI, pelaku industri wisata petualangan dan Pemda Papua Barat di Manokwari. Diskusi tersebut bertema “Menguak Potensi Wisata Minat Khusus Papua Barat” dan akan membahas mengenai potensi wisata minat khusus dari tempat-tempat yang telah dijelajahi oleh tim Pesona Alam Cenderwasih.

Latihan atlet paralayang Ekspedisi Bumi Cenderawasih. (Dok. Mapala UI)

“Hasil diskusi tersebut akan dirangkum oleh Mapala UI dalam laporan rekomendasi. Laporan ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi Pemda Papua Barat  serta bagi para pelaku industri wisata petualangan agar dapat tercipta kawasan ekowisata baru di Papua Barat,” ujar ketua pelaksana, Fathan Qorib (M-1006-UI).

Tidak berhenti sampai di situ, Mapala UI juga akan menyelenggarakan pameran serta pemutaran film pada Januari mendatang di Universitas Indonesia, Depok. Acara tersebut ditargetkan kepada masyarakat umum yang merupakan para calon turis untuk destinasi-destinasi wisata minat khusus yang telah dieksplor oleh Mapala UI di Papua Barat dalam kegiatan Ekspedisi Bumi Cenderawasih ini.

Ketua Umum Mapala UI, Muhammad Jazmi (M-1009-UI), mengatakan, “Papua selalu menjadi tempat yang istimewa dalam sejarah Mapala UI. Kegiatan Ekspedisi Bumi Cendrawasih merupakan wujud nyata Mapala UI dalam mengaplikasikan tanggung jawab perguruan tinggi yaitu Tri Dharma Perguruan Tinggi yang berisi Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan, serta Pengabdian Masyarakat. Sebagai organisasi yang berusia lebih dari setengah abad, kami akan terus mengabdi untuk Indonesia,”

Rektor Universitas Indonesia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M. Met, memberikan komentar, “kegiatan ini mempunyai ide yang bagus dan keinginan yang murni dari mahasiswa. Dengan Mapala UI merealisasikan kegiatan ini, kami senang dan bangga karena UI hadir dalam masyarakat diwakili oleh Mapala.”

Teknis Pelaksanaan

Tim Besar akan berangkat dari Bandara Halim Perdana Kusuma dengan menumpang pesawat Hercules milik TNI dalam dua kelompok penerbangan, yaitu pada 23 Juli 2018 dan 7 Agustus mendatang. Pesawat tersebut akan mengantarkan Tim hingga Pulau Biak.

Kloter I tim besar Ekspedisi Bumi Cenderawasih yang berangkat pada 23 Juli 2018 (Dok. Mapala UI)

 

Untuk melanjutkan perjalanan menuju Manokwari, Tim Besar menggunakan kapal pelni. Ibu kota Papua Barat tersebut akan menjadi base communication sepanjang kegiatan ekspedisi ini. Dari Manokwari, Tim Besar akan dipecah menjadi empat, yaitu Tim Arung Jeram, Tim Speleologi, Tim Paralayang dan Tim Bhakti Papua.

Tim Arung Jeram akan berangkat ke Sungai Prafi, Kabupaten Pegunungan Arfak untuk mengarungi sungai tersebut. Dengan lima perahu kayak, tim berencana untuk melakukan pengarungan sejauh 16 kilometer dengan titik masuk di Desa Kwau, Kab. Pegunungan Arfak dan keluar di Desa Snaimboy, Kab. Manokwari.

Tim arung jeram terbagi lagi menjadi tiga tim, yaitu tim pengarung, tim darat dan tim dokumentasi. Tim pengarung terdiri atas 5 anggota Mapala UI yaitu Salsabila Altje (M-1001-UI), Gregorius Benhard (M-1010-UI), Rifqi Herjoko (M-1019-UI), dan Wirda Wirdiana (M-995-UI) serta instruktur Lody Korua. Tim darat berisi dua anggota Mapala UI yaitu Anisyah Rahmadini (M-1021-UI) dan Andhika Bagaskara (M-904-UI) sementara tim dokumentasi adalah tiga anggota Sendal IKJ, yaitu Fauzan Raymar, Nanta Maulana, dan Malik Abdullah Asher.

Ketika tiba di lokasi pada 12 Agustus 2018, tim pengarung dan tim darat secara bersama-sama akan memetakan jeram di Sungai Prafi terlebih dahulu. Untuk memudahkan proses pemetaan tersebut, Tim membagi sungai menjadi 2 bagian. Setelah pemetaan selesai, Tim akan memulai pengarungan.

Pengarungan Sungai Prafi ini akan memakan waktu selama tiga hari. Setiap harinya, para pengarung akan menuruni sungai sepanjang 5-6 kilometer. Tim direncanakan akan sampai di titik keluar pada 18 Agustus 2018 dan memulai trekking menuju Desa Snaimboy pada hari yang sama.

Latihan atlet kayak Ekspedisi Bumi Cenderawasih (Dok. Mapala UI/Gregorius Benhard)

Tim penjelajah kedua adalah tim paralayang Mapala UI yang akan melakukan eksplorasi titik terjun di Kabupaten Pegunungan Arfak. Lokasi yang merupakan titik tertinggi di kawasan Semenanjung Doberai ini berpotensi untuk menjadi titik terjun terkenal karena memiliki angin yang cocok untuk melakukan aero sport.

Dalam tim ini, terdapat dua pilot muda Mapala UI yaitu Agung Viandika (M-1004-UI) dan Alva Lahsyadi (M-994-UI) yang akan berperan sebagai atlet. Turut serta Mutia Hanum (M-1014-UI) yang akan berperan sebagai support serta David Agustinus Teak, instruktur paralayang terkemuka.

Tim penerbang berencana akan lepas landas dari perbukitan di sekitar Danau Anggi Giji dan Gida dengan ketinggian 1675 mdpl hingga 2400 mdpl. Nama Giji yang berarti jantan dan Gida yang artinya perempuan berasal dari legenda setempat yang mengatakan bahwa Danau Anggi Giji ditinggali naga jantan sedangkan Danau Anggi Gida ditinggali naga betina.

Bentang alam Pegunungan Arfak (Dok. Mapala UI/Fadli Febrian)

Tim selanjutnya adalah tim speleologi Mapala UI. Di kawasan karst Distrik Biscoop, Kabupaten Teluk Bintuni, tim tersebut akan mencoba menemukan dan memetakan mulut-mulut gua di kawasan tersebut. Karst di wilayah ini memiliki potensi perkembangan gua yang tinggi.

Menurut riset awal Mapala UI, di kawasan karst tersebut terdapat beberapa black hole. Black hole adalah lubang besar di permukaan bumi yang bentuknya lurus dan sangat dalam. Kepastian mengenai keberadaan dan lokasi black hole tersebut menjadi salah satu tujuan penelitian ini.

Tim speleologi ini berisi tiga anggota Mapala UI, yaitu Abdurrahman Aslam (M-1013-UI), Anindyo Dwi Putra (M-825-UI) dan Ghazi Aliyuddin (M-998-UI). Ikut serta dalam tim ini Herry Bhaskara, seorang mahasiswa jurusan film yang tergabung dalam Sendal IKJ.

Berencana untuk melakukan survei di tiga titik, tim memulai kegiatan pada tanggal 11 Agustus hingga 21 Agustus. Tim akan masuk hutan melalui Desa Mindernes dan pulang menuju Manokwari melalui Desa Myorka.

Selain Pesona Alam Cenderawasih, sub-kegiatan lainnya dalam Ekspedisi Bumi Cenderawasih adalah Bhakti Papua. Program tersebut merupakan bentuk kepedulian Mapala UI terhadap kesehatan masyarakat Papua Barat, terutama masyarakat di Kabupaten Pegunungan Arfak.

Berkolaborasi dengan Tim Bantuan Medis Fakultas Kedokteran (TBM FK) UI, BEM Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) UI dan BEM Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI, Mapala UI akan melakukan penyuluhan mengenai pentingnya higienitas personal serta pola hidup sehat kepada anak-anak SD di Distrik Anggi Gida. Selain itu, tim Bhakti Papua juga akan melakukan pemeriksaan kesehatan massal yang mencakup pemeriksaan gula darah, tekanan darah, tingkat obesitas, kadar lemak, asam urat dan kolesterol, serta memberikan obat dan rujukan yang diperlukan.

Bantuan medis ini akan dilakukan di beberapa desa di Distrik Anggi dan Distrik Anggi Gida yaitu Desa Ingisrow, Desa Tuabyam, Desa Susi, Desa Suteibey, dan Desa Iraiweri. Selain itu, Tim juga akan melakukan pendataan mengenai kondisi kesehatan warga setempat. Hasil pendataan ini akan diberikan kepada berbagai pemangku kepentingan untuk kemudian menjadi bahan pertimbangan dibangun fasilitas kesehatan baru atau penambahan tenaga medis.

Anggota tim survei Ekspedisi Bumi Cenderawasih bersama warga Pegunungan Arfak. (Dok. Mapala UI/Fadli Febrian)

Tim Bhakti Papua terdiri atas dua tim, yaitu tim medis dan tim dokumentasi. Tim medis beranggotakan 3 dokter lulusan FKUI serta 15 mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan Universitas Indonesia, 3 anggota Mapala UI yaitu Azhari Shofiya (M-1012-UI), Fikri Anshori (M-981-UI), Deandra Arifianti (M-969-UI), serta 3 anggota redaksi Majalah Jejak Mapala UI yaitu Amalia Rena, Nabila Andrawina, dan Raihan Arul. Tim dokumentasi untuk Bhakti Papua adalah dua mahasiswa IKJ yaitu Intan Lestari dan Reksy Bahrein.

Dalam ekspedisi ini, Mapala UI didukung penuh oleh Pemerintah Provinsi Papua Barat, TNI, Gerakan Pramuka Papua Barat, Bentara Papua, Kementerian Kesehatan, PT. PLN (Persero), PT Eigerindo Multi Produk Industri (Eiger), Madu Bima, Telkomsel, Tim Bantuan Medis FK UI, Badan Eksekutif Mahasiswa FKM UI, BEM FIK UI dan Sendal IKJ.

Tentang Mapala UI

Mapala Universitas Indonesia adalah organisasi mahasiswa taraf universitas. Sejak berdiri pada 1964, organisasi ini aktif dalam kegiatan alam bebas serta penelitian yang bertema sosial serta lingkungan. Sebagai pelopor kegiatan pecinta alam di Indonesia, Mapala UI telah memiliki 1021 anggota yang sering melakukan ekspedisi dengan lingkup yang beragam. Salah satunya adalah ekspedisi panjat tebing Puruk Sandukui di Kalimantan Tengah pada tahun 2017 yang dilaksanakan untuk mengangkat potensi wisata minat khusus di wilayah tersebut. Pada tahun yang sama, tim selam Mapala UI juga melakukan pemetaan serta pengecekan terumbu karang di kawasan Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Kedepannya, Mapala UI akan terus melakukan terobosan dalam kegiatan di alam bebas yang dapat bermanfaat bagi masyarakat luas.

-Humas Mapala UI-

Posted in: Berita

Comments

Be the first to comment.

Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*